LHOKSEUMAWE Sembilan bulan lalu, tepatnya, 9 Maret 2015, Presiden Jokowi meresmikan pengoperasian Terminal dan Regasifikasi LNG Arun di Blang Lancang, Lhokseumawe. Lantas, apa manfaat untuk Aceh dari keberadaan Regas itu?
Terminal dan Regasifikasi Arun itu dikelola PT Perta Arun Gas (PAG), anak perusahaan PT Pertamina Gas (Pertagas). Unit regas itu berada di kompleks Kilang LNG Arun. Sebelumnya di tempat itu, puluhan tahun, PT Arun sebagai operator mengolah gas menjadi gas alam cair (LNG) untuk diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Gas itu disedot dari perut bumi Aceh Utara oleh perusahaan raksasa Amerika Serikat ExxonMobil atas izin pemerintah.
Selama itu pula triliunan rupiah duit mengalir deras ke kas negara. Namun, menurut penilaian banyak pihak, besarnya penerimaan negara dari hasil penjualan LNG Arun itu berbanding terbalik dengan kondisi kehidupan masyarakat di lingkungan ladang gas (Aceh Utara) maupun seputaran Kilang LNG Arun (Lhokseumawe). Keadaan itu masih tampak hingga ekspor alias pengapalan LNG Arun berakhir pada 2014.
Di tempat sama, PT Pertamina melalui anak usahanya, Pertagas, kemudian merevitalisasi sarana menjadi Terminal dan Regasifikasi LNG Arun. Fasilitas itu, menurut Pertamia, dirancang dengan kapasitas penyimpanan tanki LNG mencapai 12 juta ton/tahun dan produksi 400 MMSCFD.
Saat bersamaan, Pertamina juga membangun pipa gas dari Lhokseumawe ke Sumatera Utara. Berikutnya, LNG didatangkan dari luar Aceh, lalu diolah kembali menjadi gas, sehingga disebut regas. Gas itu lantas disuplai ke pembangkit PLN di Belawan, dan kawasan industri di Sumatera Utara. Proses itu dikendalikan PAG yang dipimpin putra Aceh, Teuku Khaidir.
Teuku Khaidir mengatakan sampai saat ini kegiatan Regas Arun masih berjalan normal. Sementara ini masih regas, (gas dari Lhokseumawe dialirkan lewat pipa) ke PLN di Belawan dan KIM (Kawasan Industri Medan). Totalnya 105 MMSCFD. Untuk PLN 95, kadang-kadang 100, sedangkan KIM 5 (MMSCFD), ujar Presiden Direktur PAG itu saat dihubungi portalsatu.com lewat telpon seluler, Rabu, 9 Desember 2015.
Ditanya apa manfaat untuk Aceh dari keberadaan Regas Arun itu, Teuku Khaidir menyebutkan, Dengan suplai gas ke (pembangkit) PLN Belawan lancar, listrik di Aceh kan sudah jarang mati.