Ada satu cerita tentang orang-orang di pantai, saya mendengarnya dari seorang tua di masaku kecil. Ceritanya begini. Pada suatu ketika, di saat orang-orang berkerumunan di pantai, muncullah sesuatu dari arah laut.
Sebagian besar orang-orang pun berdesakan mendekati arah sesuatu itu, mencari tahu, apa kiranya yang datang. Mereka melupakan kerja mereka tarek pukat dan bermandian di bibir laut lepas pantai. Sebagian kecil orang membenamkan dirinya di pasir, bersembunyi dari sesuatu yang dianggap mara bahaya, setidaknya sesuatu yang tidak diketahui.
Saya teringat cerita itu disebabkan keadaan politik Aceh saat ini, menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) pada tahun 2017. Sebagian besar orang berkerumun mencari tahu apa dan siapa yang lebih baik menjadi pemimpin. Sebagian lagi menghindarinya, membenamkan diri di pasir.
Tentang politik di Aceh, mungkin saya akan dinilai subjektif atau bahkan dinilai terlalu banyak menggunakan hipotesatentu saja tidak ada propaganda dalam esai politik ini karena saya tidak tengah mengajak seseorang untuk melakukan sesuatu, hanya memberikan pendapat–.
Apakah kiranya yang datang dari arah laut, yang dibawa oleh gelombang pasang itu?
Orang-orang di pantai yang penasaran mulai mendengar teriakan-teriakan, sepertinya dari orang yang menganggap kelompoknya suci karena memburukan orang-orang lain dan membenarkan orang-orangnya. Kerumunan di mulai dirasuki kebencian dan kekaguman. Sementara yang membenamkan diri di pasar, melihat di antara celah rambutnya. Sayup-sayup terdengar keriuhan itu.