BANDA ACEH – Tampilan Seni biola aceh mop mop tampil di jakarta, di taman ismail marzuki pada acara cipta budaya. november 2013.
Mop mop, sebuah jenis seni pertunjukan yang telah lama menghilang dan baru muncul kembali setelah dipromosikan oleh Nyakman Lamjame dan Teuku Zulfajri atau Tejo dengan mengangkat nama grup Meurak Jeumpa Aceh.
Grup ini dijadwalkan tampil di acara wisuda anak SMA Dyatmika International Boarding School, Denpasar, Bali, pada pertengahan tahun 2016.
Nyakman mengatakan, sebelum ini grup Meurak Jeumpa Aceh tampil di HUT Kota Lhokseumawe, 7 Nopember 2015. Sebelumnya, grup ini tampil di Kemah Seni 4 di Jantho, dan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Sutradara mop mop, Nyakman Lamjame, beberapa waktu lalu mengatakan, grup teater tradisi yang dipromosikannya tersebut telah dijadwalkan tampil di Bali bersama grup seni Seudati, Rapai Uroh dari Lhokseumawe, Saman dari Gayo, dan grup musik etnik modern kolaborasi.
Grup ini telah mendapatkan undangan tampil di Yale University, Amerika Serikat. Namun itu tidak pasti lagi karena kami baru saja berduka, syeh mop mop, Abdul Ghani, meninggal dunia setelah tampil di Kemah Seni 4 di Janto.
Meurak Jeumpa Aceh mulai dikenalkan kembali pada tahun 2010, saat tampil di Taman Budaya Aceh, Banda Aceh.
Nyakman promosikan grup ini bersama Teuku Zulfajri atau Tejo. Mereka bisa mempromosikan ini karena ada seorang ahli mop mop yang kami kenal, Syeh Ghani. Hanya ia yang tersisa dari Grup Meurak Jeumpa Aceh yang pernah popular tahun 1970-an.
Selain Syekh Ghani, ada Syekh Kawi dari grup kecil di Sawang Aceh Utara, dan Syekh Mae dari grup sandiwara di Meureudu namun telah menetap di Sawang Aceh
Pertama kali diajak Syeh Ghani. Kemudian ia mengajak Syekh Kawi dan Syekh Mae. Maka bangkitlah kembali grup mop mop. Kami pilih namanya Meurak Jeumpa Aceh, penghargaan untuk Syekh Ghani yang merupakan Maestro mop mop.
“Mop mop awalnya berkembang di Lamno, Aceh Jaya, di saat orang Portugis mendarat di sana. Setelah Portugis diusir dari Lamno, mop mop dilarang, kemudian berpindah ke Pidie. Lalu lenyap. Kemudian muncul lagi di Krueng Manee, Aceh Utara, kata Nyakman.
Sementara, di waktu terpisah, doktor bidang Penciptaan Seni Teater lulusan ISI Surakarta, Sulaiman Juned, mengatakan, di Kabupaten Aceh Utara kesenian ini diberinama mop-mop sedangkan di Aceh Besar dan Kaputen Pidie, biola Aceh ini disebut Genderang Kleng. Biola yang digunakan adalah biola violin.
Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain, masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syech) yang merangkap vokalis, pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Penabuh gendang, penyanyi, dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak, berperan sebagai Linto Baro dan Dara Baro (Suami Istri atau Marapulai kalau di Minangkabau) yang melakukan gerak tari dan banyolan sesuai irama Biola dan pukulan Rapai. Pertunjukannya membutuhkan panggung hanya 6 X 6 meter.
Dosen tetap di Jurusan Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan dosen Luar biasa di kampus lain sekitarnya ini mengatakan, ciri khas mop-mop adalah adanya tarian, cerita (dialog), nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu, menggelikan, dan penuh humor, serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras.
Mop-Mop (Biola Aceh) komunikasi disampaikan lewat kekuatan humoris, dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial serta pesan moral melalui pantunnya yang kocak. Kesenian ini sampai sekarang masih mampu berinteraksi dengan masyarakarat, katanya.[]