TERKINI
GAYA

[Video] Irama Ottoman ‘Uskudara Gideriken’ di Tradisi Dike Maulid Nabi di Aceh

Irama Ottoman “Üsküdara Gideriken” di Barzanji Maulid nabi di Aceh Tatkala masih usia Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, saya tinggal di sebuah dayah kecil, sekarang namanya…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 6 menit
SUDAH DIBACA 6.3K×
Irama Ottoman “Üsküdara Gideriken” di Barzanji Maulid nabi di Aceh

Tatkala masih usia Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, saya tinggal di sebuah dayah kecil, sekarang namanya Dayah Nuruh Muhtadi Al Aziziyah, Paloh Meuria, Muara Satu, Lhokseumawe. 

Ketika musim maulid tiba, saya ikut berlatih baca barzanji dike moled bersama kawan-kawan dan ikut pula menghadiri undangan-undangannya beserta mereka. Saya hanya peserta biasa, tidak pernah jadi radat karena itu urusan orang bersuara merdu.

Salah satu irama khas yang dipakai biasanya di bait: 

Asshalatu ‘alannabi wassalaamu ‘alaar-rasuul
Assyafii’il abthahii wa Muhammad ‘arabii
Khairu man wathi-ats-tsaraa almusyaffa’u fiil waraa
Man bihii hullat ‘uraa kulli ‘abdin mudznibi

Untuk memperindah irama, kami menambah ‘ya hu’ di awal bait, di tengah bait kami tambahkan ‘maula’. Begitulah di setiap bait apabila memakai irama itu.

Adalah hal biasa di dalam membaca barzanji itu memakai irama apa saja yang bisa dimasukkan oleh pembawa radat. Maksud ‘irama apa saja’ di sini adalah benar-benar apa saja irama. Termasuk irama lagu India atau keroncong. 

[Kebiasaan memakai irama apa saja ini pula terjadi di bagian cae di Seudati (selain yang memang harus irama khas asli), dan di setiap seni Aceh yang di dalamnya ada tutur, seperti rukon, baca nadlam, dan sebagainya. Budaya ini pula yang kemudian, di zaman yang semuanya memakai hak cipta, diitiru oleh penyanyi yang tidak bertanggung jawab dengan memakai irama orang untuk lagu mereka dan menjualnya. Hal itu dibenarnya di pangggung semata, bukan untuk direkam karena itu diputar berulangulang oleh orang.]

Namun di antara banyak irama itu ada beberapa irama yang khas, yang terus dipakai berwarisan, sepanjang zaman sejak ia digunakan pertama kali. Salah satunya ialah irama yang kita bicarakan ini.

Pertama kali kudengar–selain di dike moled–irama yang dipakai itu serupa adalah di dalam film Valley of the Wolves: Palestine, produksi Pana Film, Turki, yang mengisahkan tiga orang pasukan khusus Turki masuk ke markas tentara Israel dan membebaskan smeua orang Palestina yang ditahan. Di dalam film itu ada seorang syaikh membaca zikir dalam keadaan berdiri bersama muridnya. Bacaan itu serupa irama dike yang tersebut tadi. Saya terkejut. 

“Oh, rupanya ini irama dasar itu, irama Turki,” seruku dalam hati.

Sekira setahun setelah itu, saya membuka youtube mencari-cari lagu Turki masa silam, Ottoman, maka dapatlah irama itu, disiarkan youtube.com (video di atas) berjudul “Music of Ottoman empire, old Ottoman Song 18/19 th Century – Üsküdara Giderken” di akun milik Tamil Taklamakan.

Karena mengarah pada yakin, maka saya langsung menuliskan artikel tentangnya, seraya menanyakan apa judul lagu itu pada Dr Mehmet Ozay, seorang sosiolog, peneliti independen, asal Uskudar, Istanbul, Turki.

Saya tanyakan itu seraya menyebut bahwa kami memakai irama itu di zikir mauled di syair-syair tertentu. 

Tentu saja Dr Mehmet Ozay terkejut, sebab itu, kata dia, bukan lagu religi, akan tetapi sebuah syair tentang Uskudar, kampung halamannya. Ia memang asal Uskudar, sebuah bagian kota paling padat di wilayah Istanbul yang merupakan kota terbesar dan terpadat penduduk di Turki, dan Istanbul telah dinobatkan sebagai Kota Budaya Eropa.

Dr Mehmet Ozay mengatakan, bisa saja itu hanya kesamaan irama dari lagu yang lain. Namun, menurut pendapatku, hal itu bukanlah kebetulan dan bukan dari irama lagu lain, sebab kami para pembaca barzanji di Aceh menganggap irama itu irama tradisi dalam membaca barzanji. Maka menghayallah aku ini tentang bagaimana irama lagu Üsküdara Giderken sampai ke Aceh.

Syahdan, pada suatu ketika, datanglah rombongan dari Istanbul yang bergabung dengan rombongan Yarussalem, Mekkah, Madinah, dan Yaman, dalam rangka memenuhi perintah Sultan Selim II yang merujuk permintaan Sultan Al Kahar dari Aceh Darussalam, yang dikenal sebagai peristiwa lada Sicupak.

Di antara rombongan itulah ada orang yang turut memabawa Uskudara Giderken ke Aceh. Tentu saja, Aceh yang tidak membudaya menyanyi, memakai irama lagu itu dimasukkan ke dalam syair bernafaskan Islam seperti dike moled.
Demikianlah. 

Tetapi tidak begitu, ternyata lagu Üsküdara Giderken disebutkan diciptakan pada abad 18 atau 18 Masehi, sebagaimana di judul di youtube tersebut. Abad tersebut, menurut temuanku, sezaman dengan diciptakannya tari Likok Pulo, Ratoh Talo, dan Meugrop di Samalanga, jika merujuk pada pengakuan seorang guru tari Likok Pulo di Pulo Aceh.

Bahwasanya Tari (Likok) di Pulo (Aceh) bersama dua tari tersebut diciptakan oleh satu orang, yang disebut dari Arab, pada 1849. Penting dipahami bahwa orang Aceh kerab menyebut Arab untuk semua orang dari Timur Tengah, termasuk Turki, karena saat ke Aceh mereka memakai bahasa Arab sebagai bahasa antarbangsa (internasional) kala itu. 

Tahun 1840-an diperkirakan masa di mana Inggris sudah mengganggu perairan Selat Melaka yang dikuasai Aceh Darussalam, dan di masa itu pula Belanda tengah mencabik-cabik wilayah Aceh Darussalam dari luar jauh, dari ujung Timur dan selatan Sumatra, sebuah cara melemahkan Aceh sebelum mendarat ke Bandar Aceh untuk menyerangnya secara langsung, itu zaman akhir Aceh Darussalam.

Mungkinkah yang membawa lagu Üsküdara Giderken ke Aceh adalah syaikh yang menciptakan Likok Pulo ini? Üsküdara Giderken. Ketika Berkunjung ke Uskudar. 

Judul: Üsküdara Gideriken (kalau bahasa Inggris “When Going to Uskudar” yang artinya “Ketika Pergi ke Uskudar”). Berikut lliriknya yang disiarkan laman lyricstranslate.com

Üsküdar'a gider iken
 
Üsküdar’a Gider iken Aldi Da Bir Yagmur,
Kâtibimin Setresi Uzun Etegi Çamur.
 
Kâtip Uykudan Uyanmis Gözleri Mahmur.
 
Kâtip Benim Ben Kâtibin El Ne Karisir,
Kâtibime Kolal? Da Gömlek Ne Güzel Yara??r.
 
Üsküdar’a Gider iken Bir Mendil Buldum,
Mendilimin içine Lokum Doldurdum.
 
Kâtibimi Arar iken Yanimda Buldum.
 
Kâtip Benim Ben Kâtibin El Ne Karisir,
Kâtibime Kolali Da Gömlek Ne Güzel Yarasir.

Dalam bahasa Inggris:

While going to Üsküdar

While going to Üsküdar, rain started,
My scribes coat is long, his skirt is muddy.
 
The scribe has woken up from sleep, his eyes are cloudy.
 
The scribe is mine, I am his and strangers can't interfere,
Starched shirt looks nice to the scribe.
 
While going to Üsküdar, I found a handkerchief,
I put lokum (Turkish delight) into my handkerchief.
 
While I search for my scribe, I found him at my side.
 
The scribe is mine, I am his and strangers can't interfere,
Starched shirt looks nice to the scribe.
[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri.

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar