SISTEM demokrasi yang dianut oleh Negara Indonesia mengharuskan partai politik untuk berkampanye supaya mendapatkan pendukung dari berbagai kalangan di wilayahnya. Aceh yang telah menjadi propinsi…
SISTEM demokrasi yang dianut oleh Negara Indonesia mengharuskan partai politik untuk berkampanye supaya mendapatkan pendukung dari berbagai kalangan di wilayahnya.
Aceh yang telah menjadi propinsi Indonesia pun diharuskan berkampanye. Di saat kampanye terbuka berlangsung, masyarakat dihalau untuk meramaikannya.
Saat masih seusia madarasah, ketika musim kampanye tiba, orang-orang partai masuk ke kampung-kampung, menyediakan truk dan baju partainya bagi siapa saja yang bersedia ikut meramaikan lapangan tempat partainya bepidato politik.
Ada tiga partai saat itu, yakni Golkar berwarna kuning, PPP berwarna hijau, dan PDI-P berwarna merah.
Kami, anak-anak, merasa senang dengan adanya baju gratis dan bisa jalan jalan gratis, ditambah adanya hiburan gratis di lapangan kampanye. Tidak peduli partai warna apa, asal ada baju dan truk jalan-jalan, kami ikut. Maka sebagian besar hadirin di setiap kampanye adalah orang yang sama, hanya baju bertukar.
Di dalam truk sepanjang perjalanan ke lapangan tempat kampanye dan sepulangnya, kami berteriak untuk partai yang bajunya kami pakai disertai mengangkat jemari sejumlah nomor partai itu. 1 untuk PPP, 2 untuk Golkar, dan 3 untuk PDI-P.
Apabila kebetulan tidak ikut kampanye, kami berdiri di pinggir jalan menunggu rombongan berwarna lewat, hanya untuk mengangkat jemari yang sama atau berbeda dengan orang di dalam truk.
Satu hal yang pasti terjadi di masa itu ialah, terserah kampanye partai apa kami hadiri, tapi orang-orang tua tetap mencucuk nomor 1 warna hujau PPP di bilik suara.
Dan, terserah angka apapun yang ditusuk oleh orang-orang tua, tetapi tatkala diumumkan, pemenangnya tetap nomor 2 warna kuning Golkar. Dan, terserah siapapun anggota DPR/MPR atau wakil presiden yang dipilih, presidennya tetap Suharto.
Hal lain yang pasti di masa Orde Baru ialah para politisi memiliki karakter. Apabila ia mengatakan oposisi maka benar-benar mencoba mengimbangi opini pemerintah berkuasa.
Di masa Suharto, hitam dan putih itu jelas warnanya, tidak ada warna abu-abu, tidak ada politisi kutu loncat.
Namun setelah Suharto dijatuhkan pada 1998, Indonesia merasa dirinya bebas namun tanpa sadar kebebasan yang dimaksudkan adalah benar-benar bebas, tanpa persiapan, Rupiah terjun bebas dan tidak sanggup bangkit sampai sekarang. Karakter politisi dan masyarakat seperti terlepas dari kebun binatang.
Reformasi, alih-alih masa bangkit, ternyata kian memperburuk keadaan. Jika disebut Orde Baru korup, maka sampai sekarang itu masih ada, sementara Suharto telah dijatuhkan belasan tahun lalu. Sementara Rupiah tidak pernah kembali kepada harga di masa Suharto.
Mari kita lihat Aceh, setelah 1998. Runtuhnya gerbang Orde Baru membuat orang-orang di Aceh berani berteriak di sepanjang jalan. Walaupun mereka tidak mengetahui apa yang mereka teriakkan itu. Korup, perampas, penjajah, dan banyak lagi makian keluar dari mulut orang-orang.
Maka mucullah kaum pelarian Aceh pulang dari Malaysia. Mereka memompa semangat perang bagaikan gunung api memuntahkan lahar ke lembah. Membakar apa saja yang disentuhnya.
Perang pun meletus dan berhenti pada 2005. Kemudian, orang-orang yang disebut pahlawan pun berkuasa, memegang Aceh.
Dan, sebagaimana nasib reformasi Indonesia, letusan perjuangan di Aceh pun serupa. Kini, setelah lebih sepuluh tahun perdamaian, hal yang dulu dituduhkan untuk pemerintah Aceh-korup, perampas, penjajah-masih terlihat.
Pengangguran bertambah, orang dengan rumah kandang masih ada, dan sebagainya. Apa yang dulu dihujamkan untuk orang kini orang orang kita telah melakukannya.
Kepada sekalian juru kampanye, saya berpesan, untuk menjaga lidah dan menghindari kalimat memburuk-burukkan pihak atau partai lain, sesalah apapun mereka menurut anda.
Disebabkan, walaupun partai anda sekarang adalah partai baru, namun pendiri atau tokoh utamanya adalah didikan Orde Baru. Semua mereka, generasi penerus dari tiga partai di masa Suharto.
Yang anda bela itu bukanlah orang terbaik, tetapi hanya orang yang dekat dengan anda. Dan segala itu besar kemungkinan keberpihakan anda akan berubah di saat orang yang ada bela sekarang tidak lagi menguntungkan anda. Partai atau siapapun yang anda bela sekarang, hanya satu hal penting dijaga dan harus mendarah daging, yakni, kita bukan generasi tua itu. Kita adalah generasi Aceh muda. Bagi Aceh Muda, Persatuan di atas segala. []
Thayeb Loh Angen, penulis Novel Aceh 2025