TIDAK banyak pendaftar dalam lomba menangkap buaya di wilayah Kota Kupang yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan, sejak lomba itu dibuka pada awal Agustus 2016, ada dua tim yang sudah mendaftar. Salah satunya Resimen Mahasiwa (Menwa) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, NTT.
“Sekarang mereka itu setiap waktu selalu mengawasi di sejumlah pantai yang memang seringkali keluar buaya buaya itu,” kata Marius kepada Kompas.com, Rabu (14/9/2016) malam.
Ia masih menunggu pawang buaya dari Pulau Sumba yang berencana akan datang ke Kupang.
“Dua tim ini datang mendaftar ke kantor sudah sejak dua pekan lalu dan memang persyaratan yang kita berikan itu harus orang yang mampu dan memiliki ketrampilan,” kata dia.
Syarat itu penting karena tidak semua orang bisa menangkap binatang buas tersebut dalam kondisi hidup.
Ia melarang tim penangkap buaya mendatangi sarang reptil berbahaya tersebut. Dia menyarankan agar tim berkonsentrasi di dua titik yang kerap menjadi tempat munculnya buaya, yakni di Teluk Kupang dan Pantai Lasiana.
“Tadi saya barusan bertemu beberapa orang nelayan di pantai, mereka pada takut untuk melaut dan kasihan sekali lantaran mereka cemas dengan adanya buaya,” ujarnya.