BANDA ACEH – Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) mengharapkan seluruh pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintahan di Aceh, untuk tetap konsisten menyukseskan implementasi MoU Helsinki. 

“Kami dari aneuk syuhada Aceh telah sepakat, jika realisasi UUPA tidak selesai, maka kami akan melawan seluruh pihak yang tidak konsisten dalam menjalankan butir-butir MoU Helsinki dan turunan UUPA,” ujar Ketua JASA, Bukhari, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Senin, 28 Maret 2016.

Ia menyebutkan kondisi daerah semakin terpuruk dengan tidak suksesnya implementasi MoU ke tangan rakyat. Di sisi lain, JASA juga menegaskan agar Pusat tidak memperkeruh suasana di Aceh dengan menyebarkan isu-isu provokatif.

“Pemerintah Pusat jangan memantik bara api, apalagi harus meniup-niupi (menghembuskan isu provokatif) yang menjamur di Aceh saat ini. (Ini) justru melakukan misi merusak kenyamanan dan kestabilan kondisi masyarakat,” katanya.

Dia mengatakan sikap pemerintah yang mengulur-ulur implementasi damai akan membuat generasi muda Aceh kembali melanjutkan perjuangan, seperti yang pernah dilakukan generasi terdahulu. “Kami sudah siap melanjutkan perjuangan yang dilakukan para almarhum ayah kami dulu,” katanya.

Bukhari mengatakan kondisi di Aceh saat ini sudah aman. Tidak ada lagi perang atau letusan senjata. Saat ini, kata dia, rakyat sedang menanti keputusan merealisasikan UUPA. 

“Seperti halnya bendera Bintang Bulan saat ini, kami minta kepada para pemangku kekuasaan untuk menghargai pengorbanan almarhum orang tua kami yang rela mengorbankan darahnya untuk mempertahankan marwah dan identitas Aceh,” ujarnya.

Dia mengatakan sudah seharusnya bendera Bintang Bulan dikibarkan sebagai salah satu bentuk kekhususan Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya sudah sepatutnya pula Gubernur Aceh menginstruksikan setiap jajarannya untuk mengibarkan bendera tersebut. 

“Kalau memang Pemerintah Aceh tidak mempunyai dana untuk mencetak bendera, maka kami siap menghibahkan 10 ribu bendera untuk dikibarkan di seluruh Aceh,” katanya. 

Dia turut mengancam akan menggelar aksi dengan memboyong seluruh anak syuhada seluruh Aceh untuk merealisasikan hal tersebut. Bukhari kembali menegaskan agar seluruh pemegang kekuasaan untuk sesegera mungkin mengimplementasikan seluruh perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan RI pada 15 Agustus 2005 lalu.

Ka sep luka yang awai, bek na rencana garoe luka yang baro,” ujar Bukhari.[](bna)