Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh telah mendeklarasikan dirinya sebagai kota wisata Islami. Di mana wisata religius dan penuh dengan sejarah ilmu pengetahuan ditawarkan di sini. Maka dengan demikian Banda Aceh sendiri haruslah berbenah untuk menyambut tamu-tamunya.
Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh sudah sepatutnya banyak berbenah dalam segala bidang. Baik dalam pembangunan birokrasi maupun pembangunan infrastruktur. Apalagi berbicara Banda Aceh sebagai salah satu model kota madani di mana terkesan untuk pelayanan, kehidupan dan kenyamanan di kota ini sudahlah sangat kompleks. Ditambah lagi dengan semangat Pemerintah Aceh sendiri untuk dapat menarik investor-investor asing dan menarik wisatawan-wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
Salah satu usaha yang telah kita lihat adalah pembangunan transportasi massal di Banda Aceh, yang lebih dikenal dengan nama Trans Koetaradja. Pada dasarnya pembangunan transportasi massal ini merupakan salah satu program Nasional. Di mana setiap provinsi di Indonesia akan diberikan bantuan bus transportasi massal kecuali Jakarta. Untuk Aceh menerima sebanyak 25 unit bus untuk dua koridor, untuk biaya pengiriman dan biaya operasional akan dibebankan pada anggaran Pemerintah Aceh.
Pemerintah Aceh sendiri tidak main-main dalam upaya untuk meningkatkan kualitas transportasi massal ini. Buktinya ialah cepatnya pembangunan halte-halte yang disambut baik oleh masyarakat Aceh khususnya masyarakat wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar. Di mana masyarakat Aceh sendiri menanti pembaharuan pembangunan transportasi publik yang modern di Aceh. Sebagaimana yang dikatakan bahwasannya Trans Koetaraja ini akan beroperasi pada awal 2016.
Namun nyatanya walaupun pembangunan halte bisa dikatakan sudah sangat cepat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kabid Lalulintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishubkominfo Kota Banda Aceh, Muhammad Zubir, bahwasannya sarana untuk halte sudah rampung/siap 100%. Akan tetapi terlihat masih belum ada tanda-tanda bus Trans Koetaraja ini akan beroperasi. Ditambah lagi wujud dari fisik bus Trans Koetaraja ini pun sampai sekarang masih belum kelihatan selain hanya gambar-gambarnya saja.
Kesenjangan pembangunan ini sangat disayangkan. Apalagi melihat beberapa halte yang sudah siap untuk dioperasikan, namun sampai sekarang terbengkalai dan menjadikan pembangunan halte ini menjadi sia-sia. Seperti beberapa halte di wilayah Darusalam, Jeulingke dan beberapa lainnya, halte ini hanya sebagai tempat hiasan di mana sampah sudah mulai tampak di atas dan di sampingnya. Kemudian juga terdapat beberapa halte yang jika diperhatikan secara seksama atap-atapnya mulai memperlihatkan perubahan bentuk akibat dari batang-batang pohon dan ranting-rantingnya berjatuhan terkena atap halte tersebut.
Hujan yang mengguyur serta angin kencang dan panas pada siang hari membuat tampilan halte mulai mengkhawatirkan, ditambah lagi tidak ada nya aktivitas apapun di halte ini. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan yang sia-sia. Dan dikhawatirkan pula pada saat akan difungsikan harus mengeluarkan tambahan dana untuk perbaikan halte yang seharusnya tidak perlu. Dan hal ini amat sangat disayangkan.
Padahal pemerintah beberapa kali mengatakan di media bahwasanya bus Trans Koetaradja akan beroperasi pada awal tahun 2016. Namun perjalanan waktu yang sudah hampir memasuki pertengahan tahun beberapa bulan ke depan. Masih banyak permasalah yang terjadi di sini. Seperti pada awal pembangunan halte ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa halte tidak ramah terhadap kaum disabilitas, dan ini seharusnya menjadikan perhatian yang khusus oleh pemerintah. Namun hingga halte ini rampung pun masih ada beberapa halte yang tidak tersentuh perubahan yang dilakukan oleh pihak pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini.