Tim bentukan Belanda merilis laporan final hasil investigasi atas tragedi jatuhnya Malaysia Airlines MH17 pada Selasa, (13/10). Seperti dilaporkan oleh Channel News Asia, laporan itu baru akan diumumkan resmi pukul 11.15 waktu GMT di Pangkalan Militer Udara Gilze Rijen, selatan Belanda.

Namun bocoran yang tersebar ke pelbagai media memastikan tim penyelidik independen bentukan Belanda menyebut bila Boeing 777 itu meledak di udara pada 17 Juli 2014 lalu karena faktor eksternal. Namun di laporan itu tidak menyinggung pihak mana harus bertanggung jawab.

Sejak beberapa hari setelah insiden disebut-sebut ulah misil pemberontak Ukraina sokongan Rusia. Spekulasi pejabat Ukraina itu berulang kali dibantah oleh Moskow.

Akibat jatuhnya MH17, seluruh penumpang dan kru berjumlah 298 orang meninggal dunia. Kebanyakan dari mereka adalah warga Belanda termasuk 15 awak kabin. Sebanyak 12 orang Warga Negara Indonesia turut menjadi korban jatuhnya pesawat maskapai pelat merah Malaysia tersebut.

Seorang analis asal Majalah Jane's Defence Weekly, Peter Felsted mengatakan kepada AFP jika terkena misil tersebut 'salah sasaran', yang melintas perbatasan untuk melawan ancaman udara Ukraina.

“Kami berharap laporan dapat mengkonfirmasi apa yang telah diasumsikan jika ini adalah kesalahan dari Rusia,” katanya.

Kendati begitu, Negeri Beruang Merah berkukuh menolak klaim tersebut dan mengatakan bila pesawat dijatuhkan oleh misil yang ditembakkan oleh militer suruhan pejabat Ukraina.

“Banyak hal yang sangat janggal terkait investigasi ini. Apalagi tim penyelidik gagal mendapatkan data International Civil Aviation Organisation (ICAO),” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin (12/10).

Lebih jauh, Moskow menduga ada unsur politik dalam pelaksanaan investigasi. Rusia menilai Belanda, bersama beberapa negara Barat lainnya, ingin memojokkan posisi Rusia di tengah ketegangannya dengan Ukraina setahun terakhir.

Akhir Juli lalu, Rusia memveto resolusi Dewan Keamanan yang intinya hendak memberi mandat Mahkamah Internasional menyelidiki kasus jatuhnya MH17 yang misterius.

Dari 15 negara anggota dewan keamanan PBB, 11 diantaranya mendukung dibentuknya pengadilan tersebut. Resolusi ini didorong oleh Malaysia, Australia, dan Belanda. Adapun China, Venezuela, dan Angola memilih abstain.

Saat itu, Utusan Federasi Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Vitaly Churkin menuding pengadilan mengusut insiden MH17 hanya akan menambah panas suasana, bukan untuk mencari kebenaran mengapa pesawat itu jatuh di wilayah konflik Rusia-Ukraina.

“Kita telah melakukan bantuan dalam pencarian pesawat, kita kerahkan para ahli dibidangnya, juga teknologi yang ada tentunya, tapi kita seperti diacuhkan,” kata Churkin saat membela keputusan negaranya melakukan veto.[] sumber: merdeka.com