NEGERI Pedir atau Pidie menyimpan banyak sejarah paar ulama dan waliyullah yang tidak diangkat dan digali oleh generasi selanjutnya. Dalam kabupaten Pidie (wilayah Pidie dan Pidie Jaya) di sejumlah kecamatan tersebut banyak ditemukan situs sejarah tersebut, sebagian ada yang masih terawat dan dijaga oleh para ahli waris dan masyarakat juga sebagian juga banyak juga yang diabaikan begitu saja, padahal itu kuburan waliyullah dan warisatul ambia.
Mayoritas kuburan (maqbarah) di sana terdapat ulama keramat. Sebut saja, di antaranya, seperti kuburan Teungku Chik Di Pasi di Gampong Pasi Ie Leubeue, Kecamatan Kembang Tanjong, kuburan Teungku Chik Trueng Campli di Gampong Ukee, Kecamatan Glumpang Baro, dan Teungku Chik Di Pucok Krueng Beuracan di Desa Gampong Mesjid, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Masih sangat banyak lainnya.
Masyarakat dalam semasa hidupnya dikenal sebagai Wali Allah yang memiliki kekuatan batin dan kearifan psikhologis dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan dan tantangan alam, ini tidak satu pun tercatat sejarah hidupnya dalam bentuk tulisan.
Selama ini orang hanya mengetahui riwayat hidup dan perjuangan mereka menegakkan moral keagamaan dan ilmu pengetahuan di tengah-tengah komunitasnya melalui mulut ke mulut. Walaupun secara akademis cerita dari masyarakat yang bersumber dari mulut ke mulut, masih diragukan orisinilitas sejarahnya.
Masjid Guci Rumpong
Syekh Abdussamad atau yang makruf dan popular dalam masyarakat di kenal dengan sebutan Teungku Chik Di Pasii. Salah satu diantara peninggalan beliau beruapa guci. Saat kita telusuri ke gampong Masjid Kecamatan Peukan Baro, di sana terdapat dua buah Guci peninggalan zaman dulu pada masa Syekh Abdussamad yang masih dijaga dan diurus oleh pengurus Masjid Guci Rumpong yang kebetulan dua Guci itu bertempat di masjid tersebut.