SOSOK waliyullah Syekh Abdussamad (Tgk Chik Di Pasi) saat kembali dari Mekkah, dan setelah beberapa tahun menetap di kampung kelahirannya, beliau pergi berkhalwat pada perguruan seorang Teungku Tapa di Gunung Geureudong, Kabupaten Aceh Tengah selama lebih kurang dua tahun.
Setelah itu beliau kembali ke kampung dengan dibekali gurunya sebuah tongkat. Tongkat itu dapat digunakan untuk menggali tanah hanya dengan menggoreskanya pada tempat yang diinginkan. Beliau menjalani sisa hidupnya di kampung Waido dengan menurunkan pengetahuannya kepada murid-murid yang datang belajar padanya.
Sampai sekarang masyarakat percaya bahwa Teungku Chik Di Pasi mendapat karamah dari Allah swt., selagi beliau masih hidup maupun sekarang. Makamnya di Ie Leubeue, Kecamatan Kembang Tanjung kira-kira 10 km di kota Beureuneun, sering diziarahi orang. Kepercayaan demikian antara lain terlihat pada potongan-potongan kain putih yang digantungkan pada makam (pupanji). Batu nisan dan makam juga diselubungi dengan kain putih.
Bagi masyarakat Pidie, Teungku Chik Di Pasi dipandang sebagai pemimpin pembangunan, pembebas rakyat dari ketidakberdayaan, dan pembimbing ke jalan kebenaran. Semasa hidup, beliau tidak bisa mentolerir sikap berpura-pura dari orang-orang yang dijumpainya. Prinsip hidupnya adalah amar makruf nahi munkar; membimbing umat kepada kebenaran dan mencegah mereka dari kemungkaran.
Berulang kali masyarakat menyaksikan, bahwa dusta itu menghancurkan diri sendiri. Seseorang yang bersalah, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya, kemudian mengangkat sumpah seraya diletakkan Quran tulisan tangan beliau di atas kepala sambil berdiri di atas sebuah batu bopeng (batee siprok), badannya terkoyak-koyak. Al-Quran tulisan tangan beliau dikenal dengan Seureubek. Sangat banyak karamah waliyullah tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sempat di diceritakan dalam tulisan.