TERKINI
NEWS

Teuku Irwan Djohan: PLN BUMN Paling Konyol Dalam Pelayanan Publik

BANDA ACEH - Wakil Ketua DPR Aceh, Teuku Irwan Djohan, merasa sangat kesal terhadap kinerja PLN Aceh. Dia menilai PT PLN tidak profesional dalam memberikan…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

BANDA ACEH – Wakil Ketua DPR Aceh, Teuku Irwan Djohan, merasa sangat kesal terhadap kinerja PLN Aceh. Dia menilai PT PLN tidak profesional dalam memberikan pelayanan listrik kepada masyarakat Aceh selama ini. 

Irwan mengaku selama tiga tahun di DPR Aceh, telah berkomunikasi dengan General Manager PT PLN Wilayah Aceh, mulai masa Sulaiman Daud hingga Bob Saril. Sebagai dewan, dia turut mempertanyakan persoalan yang dihadapi PLN Aceh sehingga tidak mampu memberikan pelayanan normal kepada masyarakat.

“Dalam beberapa kali pertemuan dengan GM PLN Aceh, saya selalu tanyakan apa yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Aceh untuk membantu PLN dalam penyediaan listrik kepada masyarakat, tapi tidak ada jawaban yang jelas dan sampai tiga orang GM PLN berganti, belum ada peningkatan bahkan semakin mengecewakan,” ujar Irwan Djohan di Gedung DPR Aceh, Selasa, 4 April 2017.

Politisi NasDem ini menilai PLN sebagai BUMN yang paling konyol, karena PLN adalah perusahaan yang melakukan usaha monopoli tanpa persaingan. Sementara perusahaan-perusahaan lain dalam dunia bisnis harus berkompetisi untuk meraih pelanggan serta meraih keuntungan. 

“PLN tidak punya saingan, mereka pemain tunggal dalam bisnis penyedia listrik, tapi pelayanannya tidak profesional. Sayang sekali masyarakat yang harus tetap setia menjadi pelanggan dengan menerima pelayanan seburuk apapun dari PLN karena tidak punya pilihan lain. Pelanggan PLN sering dirugikan tanpa menerima kompensasi apapun,” ujarnya.

Menurutnya masyarakat jelas sangat dirugikan akibat pemadaman listrik oleh PLN. Banyak peralatan elektronik yang rusak, perusahaan dan toko-toko harus tutup atau membeli BBM untuk genset. Selain itu, kegiatan kantor-kantor pemerintahan juga terganggu. Begitu pula dengan kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah. 

Lebih lanjut, Irwan mencontohkan, jika perusahaan BUMN lain seperti PT Garuda Indonesia, di saat mereka merugikan pelanggan seperti penerbangan delay, selalu ada kompensasi yang diberikan kepada pelanggan. Bahkan Menteri Energi di Jepang sampai harus membungkukkan badannya selama puluhan menit untuk memberikan hormat dan permohonan maaf kepada publik akibat terjadi pemadaman listrik di “Negeri Sakura” itu. 

Menurut Irwan, hal itu membuktikan bahwa mereka punya rasa malu dan tanggungjawab atas masyarakat yang dilayani.

“Tapi PLN Aceh dengan seenaknya dan sesukanya memadamkan listrik tanpa ada rasa bersalah, tanpa minta maaf dan tidak memberi kompensasi apapun atas kerugian yang dialami masyarakat. Hal itu terjadi hampir setiap saat, termasuk di Kota Banda Aceh yang merupakan Ibukota Provinsi Aceh,” kata Irwan.

Kota Banda Aceh sebagai Ibukota Provinsi Aceh, menurut Irwan adalah etalase dari keseluruhan provinsi. Orang lain menilai Aceh dengan melihat Kota Banda Aceh. PLN harus memahami bahwa yang tinggal di Banda Aceh bukan hanya masyarakat ber-KTP Aceh saja, tapi banyak juga orang dari luar Aceh maupun dari luar negeri seperti wisatawan, pekerja, pengusaha dan investor.

Menurut Irwan, jika di ibukota provinsi saja bisa terjadi pemadaman listrik setiap hari maka semua orang akan menilai beginilah kondisi Aceh secara keseluruhan. Irwan mengatakan, penilaian orang luar terhadap keadaan Aceh yang seperti ini pasti negatif, dan ini berpengaruh besar pada perekonomian Aceh.

“Percuma kita berupaya keras mengundang investor ke Aceh, percuma kita berusaha meningkatkan jumlah wisatawan ke Aceh kalau persoalan listrik ini saja tak bisa diatasi. Wisatawan dapat menganggap daerah kita tak layak buat dikunjungi, lalu investor menilai Aceh belum layak menjadi kawasan investasi lantaran persoalan listrik saja belum terjamin,” kata Irwan.

Menurut Irwan Djohan, beberapa kali PLN menjelaskan kepada DPR Aceh bahwa persoalan listrik di Serambi Mekkah ini bukan pada kurangnya pasokan. PLN bahkan mengaku ketersediaan listrik untuk Aceh saat ini surplus, tapi persoalan utamanya pada jaringan dan infrastruktur. 

“Tapi yang lucunya adalah alasan PLN Aceh soal pemadaman listrik di kota Banda Aceh hanya pada masalah sepele, yaitu soal pohon. Ini sudah tahun 2017, sudah 70 tahun lebih Indonesia merdeka, tapi masalah pohon yang sepele itu saja belum mampu diatasi. Ini terdengar konyol bagi saya,” kata Irwan Djohan.

Irwan mengakui dirinya sudah putus asa dan tidak tahu harus berbicara apa lagi terhadap buruknya kualitas pelayanan PLN kepada masyarakat. “Saya hanya bisa meminta masyarakat agar terus bersabar atas pelayanan yang tidak profesional dan mengecewakan ini,” kata Wakil Ketua DPR Aceh dari Partai NasDem ini.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar