Maneken berasal dari kata mannekijn dalam bahasa Belanda pertengahan. Banyak yang menuliskan atau melafalkannya, manekin, meski tak ada di kamus. Biasanya berupa boneka manusia seluruh tubuh, atau setengah badan yang dipakai untuk memperagakan busana.

Maneken, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V, bermakna boneka seluruh tubuh atau setengah badan, sering kali dapat dilepas-lepas, untuk memamerkan pakaian jadi di toko-toko.

Belakangan, Mannequin Challenge sedang populer di media sosial. Isinya, menampilkan sekelompok orang yang bergaya mematung layaknya maneken selama 30 detik hingga satu menit, lalu direkam di video. Video ini lalu disebar lewat berbagai kanal media sosial. Fenomenanya mirip tren Harlem Shake dan Ice Bucket Challenge.

Maneken berawal pada abad ke-15, saat boneka anyaman digunakan untuk memajang busana dan dikirimkan para perancang kepada konsumen premium, atau dipajang sebagai contoh. Selain itu maneken seukuran manusia juga sudah digunakan untuk pengajaran di bidang kesehatan.

Pada pertengahan abad ke-19 lalu berkembang, menggunakan bahan lilin. Maneken yang pertama dipatenkan buatan Profesor Lavigne, dari Prancis. Ia lalu serius membuka pabrik maneken di Prancis pada 1850-an.

Maneken juga bisa dibuat dari bubur kertas, dan dari fiber dan plastik. Satu manekin harganya bisa mencapai Rp500 ribuan. Para pedagang kecil di pasar Tanah Abang, Jakarta, juga memakainya.[]

Sumber: beritagar.id