Apakah media sosial membuat kita cenderung enggan membagikan opini kita?
Ketika Revecca Alvarez memutuskan untuk berbagi foto keluarga yang konyol dalam akun Facebook pribadi, dia tidak menyangka akan ada masalah.
Alvarez, konsultan media penjualan dan ibu dua anak dari London, bukanlah orang yang sering menggunggah banyak hal di media sosial, sehingga dia tidak berpikir panjang ketika mengunggah foto pantat telanjang anak balitanya di Facebook. “Unggahan itu merupakan foto lucu dan polos,” katanya. “Biasanya unggahan saya mendapat respons baik.”
Mempermalukan ibu?
Tapi, setelah beberapa 'suka' dan komentar positif, kritik mulai muncul, seseorang merespons, “sangat lucu, tapi hapus saja. Ada banyak orang aneh di luar sana.” Lalu, banyak muncul komentar-komentar bernada serangan.
Alvarez mengatakan tak lama berselang, dia dihentikan oleh seorang kenalan di jalan, yang kemudian memintanya menghapus unggahan itu. Beberapa pesan langsung sampai pada inbox-nya menasehatinya agar menghapus foto itu karena 'tidak aman', walaupun unggahan itu bersifat privat.
“Saya dibuat seolah merasa saya telah melakukan kesalahan dan itu adalah cerminan buruk saya sebagai ibu,” katanya. “Saya merasa dihakimi. Beberapa di antara mereka hanya ingin membuat saya malu, dibandingkan betul-betul menasehati untuk kepentingan saya sendiri.”
Pengalaman itu membuatnya jadi lebih hati-hati. “Saya akan mengunggah sesuatu lagi di media sosial di masa depan, tapi saya belajar pengalaman pahitnya,” kata Alvarez. Dia merasa beruntung bahwa pada saat itu, unggahannya tak sampai pada kolega kerja.
Claire Knowles dari perusahaan hukum Acuity Legal mengatakan satu dari klien mereka tidaklah beruntung. Pesan dalam akun privat Facebook kliennya itu membuat pekerjaannya terancam. “Dia menulis bahwa manajernya idiot dan tidak kompeten dalam perannya – kemungkinan ini adalah sebuah bentuk perundungan siber,” kata Knowles.
Kata-kata itu sampai ke para atasannya, termasuk manajernya, dan proses pendisiplinan atas tindakan buruknya itu dimulai. “Apa yang butuh diketahui oleh para atasan adalah apakah unggahan itu berdampak buruk bagi perusahaan,” tambah Knowles.
Klien Knowles, yang tidak bisa disebut namanya karena alasan hukum, mengatakan dia tidak menulisnya untuk merundung manajer dan hanya mengungkapkan rasa frustrasi. Klien ini mengklaim bahwa dia tidak menyadari kebijakan sosial media perusahaan dan tidak mendapatkan pelatihan untuk itu.
Dia lantas diberikan peringatan tertulis terakhir – satu-satunya alasan dia tidak dipecat adalah dia telah bekerja di sana sejak lama dan rasa penyesalan,” kata Knowles.
Pikir sebelum Anda berbagi
Ketika kolega Anda adalah bagian dari audiens media sosial, Anda harus memiliki level pengaturan-diri yang sama dengan level ketika Anda berada di lingkungan kerja, misalnya seperti di meja kerja atau di sebuah pesta kantor, kata James Murray, yang bekerja di perusahaan rekrutmen Robert Walters.
Jadi apakah media sosial yang dulu dengan naifnya dianggap bebas dengan pasti kini telah membungkam kita? Sebuah riset dari Pew Research Center menunjukkan bahwa media sosial nyatanya membuat kita semakin lebih terhambat dan cenderung untuk tidak mengekspresikan pandangan pribadi sesungguhnya dibandingkan kehidupan nyata.
Kekhawatiran ini menjelaskan kepopuleran WhatsApp yang membuat penggunanya bisa mengirim pesan ke teman-teman tertentu secara pribadi, atau SnapChat, aplikasi yang menghilangkan pesan setelah pesan tersebut beredar sekian waktu. Kedua aplikasi itu diminati khalayak lantaran bisa mengekspresikan opini tanpa dihakimi.
Dan waspadalah karena walau Anda tidak sedang bekerja, bukan berarti peluang Anda semakin kecil untuk bermasalah di tempat kerja jika Anda mengunggah sesuatu yang berdampak buruk.