BANDA ACEH – Koordinator Aliansi Mahasiswa Aceh dan Mahasiswa Mereuhom Daya minta Pemerintah Pusat dan Kemendagri banyak belajar lagi tentang kekhususan Aceh.
Koordinator Aliansi Mahasiwa Aceh, Zulfikar, meminta Pemerintah Pusat jangan semena-mena terhadap kekhususan Aceh. Kata dia, jangan terus mengangkangi Aceh dengan hal-hal yang bisa menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
Seharusnya Pemerintah Pusat lebih fokus merealisasikan butir-butir MoU Helsinki yang dituangkan dalam turunan UUPA, bukan malah sibuk dengan isu-isu pemekaran, kata Zulfikar, dalam siaran pers diterima portalsatu.com, Minggu, 28 Februari 2016.
Zulfikar menjelaskan, kalau pemerintah tetap bersikeras dengan rencana memekarkan Aceh, berarti sama halnya dengan mengkhianati perdamaian.
Saat ini yang terpenting bagi Aceh adalah penyelesaian tapal batas Aceh yang semestinya diperjelas oleh Pemerintah Pusat. Rumoh Aceh mantong tiréh bèk tatrom bintéh taplah kama, ujar Zulfikar.
Hal senada disampaikan Koordinator Mahasiswa Meureuhom Daya, Mashari Wahid. Ia meminta Pemerintah Pusat untuk serius dengan perjanjian Helsinki dan turunan UUPA.
Kalau main-main, Pemerintah Pusat menyakiti hati masyarakat Aceh, jangan sampai perjanjian Lamteh terulang kembali, kata Mashari Wahid.
Menurutnya, Pemerintah Pusat harus menyadari bahwa pemekaran adalah bentuk pengkhianatan terhadap MoU Helsinki dan perjuangan masyarakat Aceh sejak dahulu.
Aceh adalah suatu wilayah masyarakat hukum yang mempunyai beragam keistimewaan dibandingkan daerah lain, dan keistimewaan tersebut tidaklah didapat dengan mudah, melainkan dengan perjuangan panjang yang berdarah, kata Mashari.[] (tyb/*sar)