Teori peredaran darah dalam dunia medis membutuhkan waktu lebih dari 2000 tahun untuk hadir seperti yang diketahui saat ini. Pendapat soal sistem sirkulasi yang sekian lama dipegang teguh pada abad ke-2 berdasarkan pemikiran Galen, seorang dokter Yunani kuno, bahkan terbukti cacat.
Tokoh yang berpengaruh besar dalam kedokteran Eropa itu pernah menyatakan, sistem pembuluh vena terpisah dari arteri, kecuali keduanya melakukan kontak dengan pori-pori tak terlihat.
Pendapat itu dipandang salah kaprah karena teori kedokteran Galen dipengaruhi hal-hal filosofis. Teori peredaran darah kemudian mulai diperbarui dan dikembangkan kembali oleh bangsa Eropa pada abad keenam belas. Adalah Servetus, Vesalius, Kolombo, dan William Harvey, ilmuwan Eropa yang diyakini telah mematangkan hipotesis sistem peredaran darah ini.
Namun, penemu yang secara komprehensif menjabarkan sistem sirkulasi darah yang sekaligus membantah teori Galen justru datang dari seorang dokter terkemuka abad ke-13: Ibn al Nafis. Sosok yang terlupakan itu mulai dipertimbangkan sebagai penemu pertama teori peredaran darah nyaris 300 tahun sebelum hipotesis itu dikukuhkan William Harvey.
Lelaki bernama lengkap Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm al-Qarshi al-Dimashqi itu lebih dikenal sebagai Ibn al Nafis. Ia lahir pada tahun 1213 di Damaskus. Ibn al Nafis mengenyam pendidikan dokter di Medical College Hospital atau Bimaristan Al Noori. Pada 1236, Ibn Nafis pindah ke Mesir dan bekerja di Rumah Sakit Al Nassri. Dia kemudian diangkat sebagai kepala direktur Rumah Sakit Mansuriya dan menjadi dokter pribadi Sultan.
Ibn al Nafis sempat menerbitkan sebuah buku terkenal berjudul Sharah al Tashreeh al Qanoon. Buku itu hampir terlupakan hingga akhirnya pada 1924 seorang dokter dari Mesir, Muhyiddn At-Tathawi menemukan manuskrip bernomor 62243 dengan judul Commentary on the Anatomy of the Canon of Avicenna di sebuah perpustakaan Jerman. Dalam buku ini, Ibn al Nafis memaparkan deskripsi awal sistem peredaran darah manusia.
Sistem Peredaran Darah Pulmonalis Ibn Nafis
Dalam pandangan Ibn Nafis, peredaran darah manusia dimulai dari bilik kanan, melalui arteri pulmonalis, kemudian mengalir ke paru-paru. Lewat vena pulmonalis, sirkulasi darah kemudian kembali ke serambi kiri menuju bilik kiri untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Teori Ibn Nafis tersebut kini dikenal dengan sistem peredaran darah kecil atau sirkulasi pulmonal.
Teori yang dikemukakan Ibn Nafis tersebut berusaha membantah pendapat Galen yang telah diakui sekian lama. Dikutip dari artikel ilmiah yang ditulis Saeed Changizi Ashtiyani, Galen mengasumsikan bahwa darah mengalir melalui invisibel holes atau lubang tak terlihat yang terdapat antara dua bagian jantung. Hipotesis tanpa dasar yang dikemukakan dengan penuh keyakinan oleh dokter paling diakui pada Abad Pertengahan itu bahkan telah diterima sebagai kebenaran absolut.
Masih dari laporan Ashtiyani, sejumlah peneliti Arab mencoba memberikan pandangan terkait teori sirkulasi yang dikemukakan Galen. Menurutnya, kekeliruan Galen dalam sistem sirkulasi darah ini diperoleh melalui pembedahan anak yang lahir prematur. Galen menyatakan ada sebuah lubang yang menghubungkan bilik kanan dan bilik kiri jantung. Kondisi demikian rupanya ada dan berkembang dalam tubuh si anak yang mengalami kelainan bawaan.
Maka dari itu, melalui penelitian yang dilakukan, Ibn Nafis kemudian menyangkal teori Galen dengan menyatakan:
“Setelah bilik kanan menyempit, darah harus masuk ke bilik kiri untuk mendapatkan 'semangat vital', tapi tidak ada lubang di antara kedua ventrikel karena jantung bagian ini lebih tebal, atau seperti dihipotesiskan, tidak ada [lubang] yang terlihat.
Ibn Nafis melanjutkan, Untuk itu, darah harus mengalir ke paru-paru melalui arteri pulmonalis untuk menyebar ke paru-paru dan bercampur dengan udara sehingga partikel tertipis di dalamnya disaring. Kemudian, [darah] memasuki vena pulmonalis sehingga bisa mentransfer darah yang telah bercampur dengan udara dan siapkan melahirkan semangat vital ke bilik kiri.
Melalui pernyataan itu, Ibn al Nafis membantah pendapat Galen dengan menegaskan tidak ada lubang antara bilik kanan dan kiri jantung dalam sistem peredaran darah. Darah di bilik kanan harus masuk ke paru-paru lewat arteri pulmonalis untuk memperoleh oksigen, atau yang dimaksud semangat vital oleh Ibn Nafis. Setelahnya, darah yang bercampur oksigen masuk kembali melalui vena pulmonalis menuju serambi kiri untuk didorong ke bilik kiri sehingga bisa diedarkan ke seluruh tubuh.
Dengan kata lain, peredaran darah ini membawa darah tanpa oksigen menuju paru-paru kemudian mengalirkan darah kaya oksigen kembali ke jantung. Bila digambarkan secara singkat, sistem peredaran darah Ibn Nafis bermula dari bilik kanan arteri pulmonalis paru-paru vena pulmonalis (serambi kiri) bilik kiri.
Terkait sistem peredaran darah itu, Ibn al Nafis juga menyatakan bahwa harus ada jalur komunikasi kecil antara arteri pulmonalis dan vena pulmonalis. Berdasarkan laporan yang ditulis John B. West, hipotesis ini diprediksi telah menginspirasi temuan pembuluh kapiler paru-paru yang baru mencuat 400 tahun kemudian oleh Marcello Malpighi (1628-1694).
“Dan untuk alasan yang sama ada jalur yang tampak [atau pori-pori, manafidh] antara dua [pembuluh darah, yaitu arteri pulmonalis dan vena pulmonal], demikian yang dipaparkan Ibn Nafis dalam Commentary on the Anatomy of the Canon of Avicenna.
Ibn al Nafis sekali lagi mencoba membantah kekeliruan teori Galen yang berkaitan dengan pembuluh darah dalam hubungannya dengan jantung dan paru-paru. Penelitiannya berujung pada kesimpulan bahwa darah dipompa dari bilik kanan ke paru-paru, tempat darah akan bercampur dengan oksigen, untuk kemudian dialirkan ke bilik kiri. Dengan teori ini, Ibn Nafis membuktikan bahwa darah disaring di dalam paru-paru, yang lebih lanjut dikenal sebagai sistem peredaran darah pulmonal.
Teori Ibn al Nafis yang membuatnya terlihat menonjol ini adalah argumennya soal pembedahan jantung dan paru-paru. Dari pembedahan itu, ia menjadi orang pertama pula yang menyatakan paru-paru terdiri atas sejumlah bagian, di antaranya laring, pembuluh arteri, dan pembuluh vena. Lokasi semua bagian itu terletak dalam jaringan yang lembut dan berpori.