MASALAH bahasa ternyata tak semudah yang diduga. Tak usah yang terlalu berat, masalah peluluhan saja masih sering keliru, terutama dalam tulisan. Terkait peluluhan huruf k,p,t,s pada awal kata dasar, masih saja ada yang menulis memertahankan, memertanyakan, ataupun memrihatinkan. Kata-kata ini tentu saja keliru karena yang benar adalah mempertahankan, mempertanyakan, dan memprihatinkan. Penjelasannya, huruf p pada kata-kata itu merupakan bagian dari imbuhan (awalan) memper- sehingga tidak diluluhkan. Kata mempertanyakan didahului bentuk bertanya. Sementara kata mempertahankan didahului bentuk bertahan.
Yang diluluhkan adalah huruf p pada awal kata dasar, misalnya pengaruh menjadi memengaruhi, percaya menjadi memercayai, pikir menjadi memikirkan, pidana menjadi memidanakan, dan sebagainya. Kata memerhatikan pun keliru bila kita mengacu ke Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa edisi kelima yang menetapkan hati sebagai lema atau kata dasar untuk kata bentukan berhati(-hati), memperhatikan, ataupun perhatian. Kata memerhatikan hanya benar bila mengacu ke KBBI Edisi Ketiga yang mencantumkan lema perhati. Namun, atas masukan dari ahli bahasa, lema perhati dikembalikan ke hati seperti tercantum dalam KBBI V.
Sementara kekeliruan kata memrihatinkan terletak pada peluluhan p dalam gugus konsonan pr (pada kata prihatin). Padahal Pusat Bahasa menetapkan tidak terjadi peluluhan pada gugus konsonan yang didahului awalan me– (dan variasinya). Kata dasar protes menjadi memprotes (bukan memrotes), kritik menjadi mengkritik (bukan mengritik), dan prihatin menjadi memprihatinkan (bukan memrihatinkan). Selain faktor morfologis, aturan ini juga mengacu pada kemudahan pengucapan. Mengucapkan memrihatinkan lebih sulit daripada memprihatinkan. Contoh lain adalah gugus st pada kata menstabilkan dan menstandarkan.