TERKINI
HEALTH

Tarekat Naqsyabandiah (II): Silsilah Tarekat Naqsyabandiah

DALAM perjalanan sufinya, Syekh Bahauddin mengatakan bahwa beliau berpegang teguh pada jalan yang ditempuh Nabi dan sahabatnya. Salah satu ungkapan beliau mengatakan bahwa sangatlah mudah…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 9.8K×

DALAM perjalanan sufinya, Syekh Bahauddin mengatakan bahwa beliau berpegang teguh pada jalan yang ditempuh Nabi dan sahabatnya. Salah satu ungkapan beliau mengatakan bahwa sangatlah mudah mencapai puncak pengetahuan tertinggi tentang monoteisme (tauhid), tetapi sangat sulit mencapai makrifat yang menunjukkan perbedaan halus antara pengetahuan dan pengalaman spiritual.[1]

Sebagai tarekat yang muktabar, tarekat Naqsyabandi ini yang dinisbahkan kepada oleh beliau sendiri Syekh Bahauddin, ajarannya berasal dari Nabi Muhammad, dengan penurunan atau pewarisan secara  tarqqi (berantai) seperti yang telah ditulis oleh Muhammad Nazimuddin Amin al-Qurdi di dalam kitabnya, Tanwiru al-Qulub. Di dalam kitab tersebut tertulis secara jelas susunan silsilah  Tarekat Naqsyabandiyah mulai dari Nabi Muhammad hingga sampai kepada Bahauddin Naqsyabandi.[2]

Silsilah tarekat ini selengkapnya pada sketsa di atas berurut (dari atas ke bawah):
Muhammad SAW
Abubakar Shiddiq
Salman Al-Farisi
Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar Shiddiq
Ja’far As-Siddiq (w. 148/765(
Abu Yazid Thaifur Al-Bistami (w. 260/874)
Abu ‘Ali Al-Farmadi (w. 477/1084)
Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani (w. 535/1140)
‘Abd. Al-khaliq Al-Ghujdwaini (w. 477/1084)
‘Arif Al-Riwgari (w.657/1259)
Mahmud Anjir Faghnawi (w.643/1245)
‘Azizan ‘Ali Al-Ramitani (w. 705/1350)
Muhammad Baba As-Samasi (w. 740/1340)
Amir Sayid Kulal Al-Bukhari (w. 772/1371)
Muhammad Bahauddin Naqsyabandi (717-791/1318-1389)[3]

Dalam menjalankan aktivitas dan penyebaran tarekat Naqsyabandi. Beliau mempunyai tiga orang khalifah utama, yakni Ya’qub Carkhi, ‘Ala Al-Din ‘Aththar dan Muhammad Parsa. Masing-masing orang tersebut mempunyai seorang atau beberapa oarang khalifah lagi. Guru yang paling menonjol dari angkatan selanjutanya yang berasal dari khalifah Ya’qub Carkhi adalah Khwaja ‘Ubaidillah Ahrar. Dalam penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah ia berjasa menetapkan sebuah pola yang banyak diadopsi oleh mayoritas syekh Naqsyabandiyah selanjutnya, yaitu menjalin hubungan akrab dengan kalangan istana. Oleh karena demikian ‘Ubaidillah mendapat kekuasaan politik yang luas jangkauannya. [4]

Hasil usaha dan lobi politik dari ’Ubaidillah ini, kemudian Tarekat Naqsyabandiyah ini pertama kali meluas ke luar Asia Tengah. Beliau mengangkat sejumlah khalifah untuk diutus ke negeri-negeri Islam yang lain. Penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah kemudian memasuki wilayah India sekitar abad 10, atau tepatnya tahun 1526. Di antara Masyaikh Naqsyabandiyah yang datang ke India adalah Baqi Billah, ia dilahirkan di Kabul tahun 1564 dan telah belajar pada beberapa tokoh Naqsyabandiyah sebelum ia bermukim di India. Beliau mempunyai dua orang khalifah yang bernama Ahmad Sirhindi dan Taj al-Din, dari kedua orang ini yang paling berpengaruh adalah  Ahmad Sirhindi. Dengan perjuangan beliau, Tarekat Naqsyabandiyah mengalami perkembangan yang pesat di India.[5]
 

[1] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarrah …, h. 89.

[2] Misri  Muchsin, Kontroversi Darul Arqam …, h. 48.

[3] Misri  Muchsin, Kontroversi Darul Arqam …, h. 49.

[4] Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarrah …, h. 93.

[5] Misri  Muchsin, Kontroversi Darul Arqam …, h, 94.


* Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar