Setelah orang Rohingya, kini orang Tamil terdampar di perairan dekat pantai Aceh. Tujuan mereka sama, Australia. Mereka mengimpikan sebuah negara pemberi suaka, dan mengabaikan bahwa di Australia, islamphobia tengah berkembang.
Sebagaimana diketahui, kapal yang ditumpangi 44 Tamil Sri Lanka sekarang terdampar di bibir pantai Pulau Kapuk, Lhoknga, Aceh Besar, Aceh sejak Sabtu 11 Juni 2016.
Dikabarkan, tali jangkar kapal putus sehingga kapal terhempas ke pinggir dari posisi sebelumnya sekitar 300 meter dari daratan. Mereka ingin ke Australia, bukan ke Aceh.
Dalam hal ini saya menilai tindakan Pemerintah Aceh yang tidak ada rencana untuk membawa 44 Tamil Sri Lanka tersebut ke daratan, sudah tepat. Kalau kapal mereka sudah baik lagi, boleh dibantu perbekalan secukupnya, lalu ditarik lagi ke laut lepas agar dapat melanjutkan perjalanan ke Australia.
Saya setuju dengan Kepala Kesbangpol dan Linmas Aceh, Nasir Zalba yang menolak mendaratkan saudara kita Tamil Sri Lanka tersebut. Nasir mengkhawatirkan perihal administrasi persis pihak imigrasi. Namun saya mengkhawatirkan keamanan dan keselamatan Tamil Sri Lanka tersebut jika didaratkan.
Maka, saya berbeda pendapat dengan Anggota DPRA Iskandar Usman Al-Farlaky yang ingin mereka didaratkan. Kita sebaiknya memahami bahwa untuk ukhuwah (solidaritas), cukup dengan kita memperbaiki kapal dan memberikan mereka perbekalan. Membantu Tamil Sri Lanka di Lhoknga, wajib, menurut kebutuhannya.
Dengan orang Rohingya, saya adalah salah satu orang pertama yang menyerukan mereka diselamatkan, sejak 2013. Dan Tamil Sri Lanka berbeda dengan Rohingya.
Rohingya hampir meninggal di laut sehingga memang harus didaratkan, di negeri sendiri mereka diperlakukan seperti binatang, ditolak sebagai warga negara, dan semacamnya.