TERKINI
TAK BERKATEGORI

Tajikistan Larang Warganya Berjanggut dan Berjilbab

  DUSHANBE - Pemerintah Tajikistan, atau yang biasa disebut Tajik, mewajibkan warganya yang memiliki janggut untuk segera mencukurnya.  Awal pekan ini, polisi di wilayah Khatlon, Tajikistan,…

KOMPAS Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 688×

 

DUSHANBE – Pemerintah Tajikistan, atau yang biasa disebut Tajik, mewajibkan warganya yang memiliki janggut untuk segera mencukurnya. 

Awal pekan ini, polisi di wilayah Khatlon, Tajikistan, mengatakan mereka telah mencukur janggut hampir 13 ribu pria sebagai bagian dari “kampanye antiradikalisasi”.

Djovid Akramov , warga Tajik, mengatakan dihentikan oleh polisi Tajik di luar rumahnya bersama dengan anaknya berusia 7 tahun, bulan lalu. Ia ternyata dibawa ke kantor polisi di Dushanbe untuk mencukur janggut.   

“Mereka menyebut saya Salafi, radikal, musuh publik. Kemudian dua dari mereka memegang tangan saya, sementara satu lagi mencukur setengah dari janggut saya,” kata Akramov, seperti dilansirBBC pada 22 Januari 2016.

Selain mencukur janggut, kampanye tersebut juga melarang perempuan Tajik mengenakan  jilbab dan cadar hitam, terutama di sekolah-sekolah dan universitas. Larangan berjilbab juga berlaku di semua lembaga negara.

Polisi mengatakan, tahun lalu, mereka telah menutup sekitar 160 toko yang menjual jilbab dan meyakinkan 1.773 perempuan untuk berhenti memakai jilbab.

“Jangan menyembah nilai asing, jangan mengikuti budaya asing. Kenakan warna pakaian tradisional dan bukan hitam,” kata Presiden Emomali Rakhmon. Bahkan saat berkabung, wanita Tajik (harus) memakai seragam putih, bukan hitam,” kata pejabat setempat.

Kebijakan Tajik tersebut, serupa dengan sistem sekularisme Turki semasa dikuasai pengkuti Mustafa Kemal Atartuk.
Bukan hanya itu, sebelumnya, otoritas telah meminta orang tua untuk memberikan nama anaknya menggunakan nama Tajik tradisional, bukan nama Arab atau asing.

Kampanye pemerintah dijelaskan yang mendekati islamphobia tersebut dikatakan sebagai oleh kebutuhan untuk melawan radikalisasi di tengah kekhawatiran bahwa Asia Tengah mungkin mengikuti jalan negara-negara seperti Afghanistan, Irak, atau Suriah, yang terjebak dalam ekstremisme.

Menurut perkiraan resmi, ada lebih dari 2.000 orang Tajik bergabung dalam pertempuran di Suriah. Populasi muslim di Tajikistan yang merupakan wilayah Turki Usmani semasa berjaya, mencapai 99 persen. Namun ateisme secara resmi didorong selama 70 tahun kekuasaan Soviet.

Negara berpenduduk sebesar 7,1 juta orang telah berjuang dengan kemiskinan dan ketidakstabilan sejak merdeka dari Uni Soviet, lebih dari dua dekade lalu. Mereka masih sangat bergantung pada Rusia. Sebagian besar warga Tajik pergi untuk bekerja di Rusia.[]

Sumber: tempo.co

KOMPAS
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar