BANDA ACEH – Aceh yang pernah mengukir kegemilangan di zaman kesultanan dengan penulisan mushaf Alquran ratusan tahun silam, saat ini perlu membangkitkan kembali semangat penulisan mushaf. Ini merupakan bagian dari proses untuk memelihara Alquran hingga akhir zaman sebagaimana firman Allah Swt. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9).
Demikian disampaikan Ulama dan Penulis Mushaf Kerajaan Maroko, Syeikh Belaid Hamidi saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (25/11) malam, yang diteruskan melalui siaran pers kepada portalsatu.com, Jumat, 27 November 2015.
Menurutnya, semangat penulisan mushaf Alquran pada generasi muda Aceh juga sejalan dengan penerapan syariat Islam di provinsi paling ujung barat pulau Sumatera ini.
“Kalau Aceh lagi menerapkan syariat Islam, karena Alquran adalah syariat, berarti menuliskan mushaf Alquran itu penerapan syariat. Karenanya mari kita bangkitkan semangat dalam membudayakan kembali penulisan mushaf dengan tangan yang kini mulai pudar tergerus zaman,” kata Syeikh Belaid Hamidi yang juga Dewan Hakim Perlombaan Kaligrafi Internasional Ircica, Turki pada pengajian dengan tema, “Penulisan Ayat-ayat Alquran Rahhalah di Bumi Aceh”.
Menurutnya, untuk menulis mushaf Alquran ini bukan pekerjaan yang mudah. Harus betul-betul siap, makanya dirinya ingin mempersiapkan dulu orang dan SDM-nya. Ketika dia sudah betul-betul siap baru diarahkan agar tidak sampai tergesa-gesa.
“Saya ingin mempersiapkan murid saya dulu yang ada di Aceh empat orang agar betul-betul teliti dia dalam penulisan di nasakh, kemudian juga akan ikut membantu menulis satu dua juz, saya akan selalu berada di belakang murid-murid yang telah saya berikan ijazah kaligrafi,” terangnya.
Ditambahkan Syeikh, kalau misalnya pemerintah di Aceh betul-betul mendukung untuk penulisan mushaf ini, maka harus mendukung dari segala segi. Yang menulis itu nanti dia tidak lagi memikirkan hal-hal yang lain. Dia akan konsentrasi dengan penulisan. “Kalau pemerintah mendukung penuh, insyaallah saya akan siap membantu,” jelasnya.
Dalam pengajian KWPSI dimoderatori Dosi Alfian itu, penulis delapan mushaf Alquran asal Maroko, Syeikh Belaid Hamidi, juga mengisahkan bahwa dirinya memendam hasrat untuk menuliskan mushaf Alquran sejak kecil. Namun, Syeikh Belaid memasang tekad akan mewujudkan cita-citanya ketika umurnya mencapai 40 tahun.
Hingga pada suatu malam akhir tahun 1980-an, Syeikh Belaid Hamidi mengaku bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad SAW. Dalam mimpi itu, Rasulullah meminta Syeikh Belaid menuliskan mushaf Alquran.
“Setelah mimpi itu, saya sangat ingin menulis Alquran, tapi ada satu kendala yaitu saya berjanji akan mulai menulis Alquran pada umur 40,” ungkap Syeikh Belaid.
Syeikh Belaid Hamidi yang kini mengajar di Mesir, didampingi dua muridnya asal Aceh, Mukhlis Ilyas yang bertindak sebagai penerjemah, serta Khairul Rafiqi.
Markaz Halqah al-Khairiyyah di Maidan Husain, tempat Syeikh Belaid mengajar di Mesir, memiliki anak didik yang sebagian besar merupakan mahasiswa al-Azhar, Kairo. Saat ini, ada 12 muridnya berasal dari Aceh.
Saat keinginan menuliskan Alquran semakin memuncak, Syeikh Belaid yang saat itu sudah dikenal sebagai salah seorang ahli khat (kaligrafer), mendapatkan tawaran dari sebuah penerbit di Maroko untuk menuliskan mushaf Alquran.