Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc, MA
(Dosen Komunikasi & Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung/UNISBA)
Ada yang bilang; Kenapa Tuhan tidak langsung mengazab negeri-negeri yang menolerir LBGT?
Jawabnya mudah saja. Tak usah bimbang. Apalagi terpancing emosi, kemudian menjadi gagal fokus. Terus kejarlah cita-cita dan harapan Anda saja!
Dalam banyak kesempatan, kita sering kali menghabiskan waktu meladeni perkataan tak popular. Ucapan yang berasal dari sebagian orang yang justru dijadikan rujukan dan kebanggaan. Tapi yakin saja, pengikutnya hanya secuil saja. Mudah-mudahan Anda tidak termasuk.
Ibaratnya seperti seorang tukang parkir pertigaan atau perempatan jalan yang nekat menghentikan puluhan kendaran yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya karena satu atau beberapa mobil yang hendak menyimpang, sang tukang parkir itu sesungguhnya hanya berharap dapat uang recehan saja. Jadi tak usah peduli omongan orang, apa saja dihalalkan yang penting hajat terlampiaskan. Pernahkah Anda memperhatikannya?
Begitu pula orang-orang yang suka mengotak-ngatik kesakralan isi Alquran. Mereka itu seolah-olah menjadi pakar sejarah. Mereka berani melakukannya bukan karena mereka hebat dan hafal Alquan. Sekali-kali mereka tidaklah demikian. Namun sesungguhnya, ada maksud lain yang belum terlampiaskan saja. Pernahkah Anda memperhatikannya?
Hukuman di era global memang tidak selalu dengan turun hujan batu, ditenggelamkan, disambar petir, dikutuk jadi kera, babi, datang burung ababil dan sejenisnya. Padahal, percayalah, hal demikian itu sebenarnya sangatlah mudah bagi Allah yang Maha Perkasa.
Perhatikan saja wajah-wajah yang “mungkin” sudah menarik perhatian Anda itu. Adakah aura yang memancar dari wajah-wajah mereka? Cahaya akan memudar dari pelaku penyimpangan dan para pembelanya. Pada hari kiamat, kegelapan wajah mereka akan kian disempurnakan. Adapun kalangan beriman dan pelaku kebajikan — yang sekalipun berkulit hitam legam — mereka itu laksana purnama yang membuat iri para durjana nan durhaka.
Ah, biarkan saja mereka berkicau. Toh, siapa yang mampu memberi petunjuk selain Allah kepada orang yang hanya gemar menyembah hawa nafsu. Mereka itu memiliki pendengaran, mata dan hati yang telah tertutup dan terkunci. Mau apa lagi?
Doakan saja supaya mereka diberi hidayah, bertaubat dan husnul khatimah. Rasanya, tiada yang tak mungkin bagi Allah. Begitu luas ampunan dan rahmat-Nya bagi mereka yang tersadar. Namun jika tidak berhenti maka pasti ada ketetapan Tuhan akan terjadi sebagaimana yang sudah diperlihatkan kepada umat sebelum kita. Demikian namanya sunnatullah.
Penciptaan manusia tidak lebih dahsyat dari penciptaan alam semesta, adakah kita mengambil pelajaran? ''Dan tidaklah sama orang yang buta (??????) dengan orang yang melihat (??????),'' (QS. Ghafir: 58).
Memaknai firman Tuhan memang tidak bisa diartikan secara harfiah. Di balik itu, sebenarnya sungguh banyak pesan berharga. Tidakkah kita memperhatikan bagaimana Alquran membandingkan antara orang yang melihat (Bashir) dan orang buta (A'maa).
Maksud bashir, abshar, mubshir maupun bashair ialah mereka yang dianugerahkan ilmu yang dengannya ia bisa membedakan antara hak dan batil. Sekalipun ia buta secara fisik atau berkebutuhan khusus, tapi sesungguhnya mereka tetap melihat.
''Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi (Al Abshar).'' (QS. Shaad: 45)
''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari syaitan, merekapun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya) (Mubshirun).'' (QS. Al Araaf: 201)
Alquran ini adalah pedoman (bashair) bagi manusia. Kitab suci ini sekaligus juga menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al Jatsiyah: 20)
Adapun A'maa, bukan buta matanya. Bisa jadi ia normal, berpenampilan menarik, berstatus sosial, bahkan berpendidikan tinggi, namun buta mata hatinya. Akibatnya ia mengalami kesulitan membedakan hak dan batil, bahkan seringkali mencampuradukkannya.
Keintelektualan seseorang seharusnya menjadi sarana memahami agama Allah yang penuh kemudahan serta menjadikan lebih dekat denganNya, bukan menjadi pembantah hebat.