TERKINI
KAMPUS

Sultan Zainal ‘Abidin Sang Penakluk Gelombang

SULTAN Zainal ‘Abidin (II) atau Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar bin Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Ia salah seorang sultan Kerajaan Islam Samudra…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 7.1K×

SULTAN Zainal ‘Abidin (II) atau Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar bin Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shalih. Ia salah seorang sultan Kerajaan Islam Samudra Pasai yang memerintah 831H/1428 M – 841 H/1438 M.

Dikutip dari buku “Daulah Shalihiyyah di Sumatera” yang ditulis Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, Sultan Zainal ‘Abidin ini digelar dengan Ra-Ubabdar yang berarti penakluk gelombang. Ra: kata imbuhan pada setiap awal nama dalam satu dialek bahasa di kawasan Asia Tengah; ubab dan ‘ubab berasal dari kata Arab: gelombang air yang besar dan tinggi; dan dar: kata imbuhan Persia pada ujung nama berarti pemilik, penguasa, pemegang, penanggung jawab.

Taqiyuddin memperkirakan gelar tersebut sudah disandang Zainal ‘Abidin sebelum ia menaiki tahta kesultanan. Perluasan wilayah Islam di Asia Tenggara yang dipimpin Samudra Pasai pada masa pemerintahan Ratu Nahrasyiyah (bahasa tutur lokal: Nahrisyah) diyakini tidak lepas dari peran  dan kiprah Zainal ‘Abidin itu.

“Kami memperkirakan, ia adalah seorang laksamana besar, penakluk gelombang, di masa pemerintahan sepupunya, Ratu Nahrasyiyah,” tulis Taqiyuddin.

Taqiyuddin menjelaskan, ada kesan kuat yang dapat ditangkap dari sekian tinggalan sejarah Samudra Pasai bahwa Zainal ‘Abidin adalah seorang pemimpin politik terkuat di Asia Tenggara pada masanya. Apabila pada era sebelumnya ia telah memimpin perluasan wilayah Islam di Asia Tenggara maka pada era kepemimpinannya, wilayah-wilayah Islam yang luas itu telah menjadi suatu kesatuan yang utuh dan sulit untuk dipecahkan.

Pada masa sultan ini, Samudra Pasai diyakini memiliki angkatan pertahanan yang tangguh dan merupakan pusat keilmuan dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Menyangkut dunia kebudayaan, menurut Taqiyuddin, suatu perkembangan paling menonjol  di masa pemerintahan sultan ini adalah tampilnya kebudayaan Melayu Islam sebagai suatu kebudayaan yang mandiri dan telah mampu melepaskan diri dari dikte-dikte kebudayaan luar yang memengaruhinya.

“Maka dapat dikatakan bahwa apa yang hari ini dikenal dengan kebudayaan Melayu Islam sebenarnya telah hadir dan eksis seutuhnya mulai dari masa itu dengan apa yang mungkin  disebut sebagai kebudayaan Islam Jawiy,” tulis Taqiyuddin.

Taqiyuddin juga meyakini bahwa berbagai karya tulis dalam bahasa Jawiy (Melayu) telah dilahirkan dalam masa-masa Zainal ‘Abidin memerintah. Penanggalan tarikh wafat dengan menggunakan bahasa Jawiy yang telah ditranskrip ke huruf-huruf Arab, untuk pertama kalinya, dijumpai pada batu-batu nisan dari paroh abad tersebut (ke-9 H/15 M).

Selain gelar Ra-Ubabdar, Sultan Zainal ‘Abidin juga memiliki gelar lain yaitu Al-Malik Azh-Zhahir. Dengan demikian, menurut Taqiyuddin, ia adalah sultan ketiga yang menyandang gelar ini. Disebutkan, Al-Malik Azh-Zhahir tampaknya merupakan sebuah gelar yang dipercaya dapat menjadi pertanda baik (tufa’ul) bagi Samudra Pasai. Sebab itulah maka pada masa-masa kepemerintahan anak cucu Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar gelar ini tetap dibubuhkan pada setiap mata uang yang dikeluarkan. Di samping itu juga menjadi penanda bahwa mereka adalah keturunan dari Al-Malik Azh-Zhahir Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar.  

Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar dianugerahi banyak putra-putri. Semua sultan yang memerintah Samudra Pasai pada periode setelahnya merupakan anak cucu keturunannya. Banyak di antara para sultan tersebut telah dimakamkan di kompleks pemakaman kesultanan di Blang Me, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.  

“Setelah melalui hidup yang tak pernah henti dari kerja keras dan perjuangan dalam mengokohkan Islam di Asia Tenggara, maka pada hari Jumat waktu Zuhur tanggal 21 Syawwal 841 H, Sultan Agung Samudra Pasai ini pulang ke haribaan Tuhannya,” tulis Taqiyuddin.

Makam Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar berada di kompleks pemakaman kesultanan Samudra Pasai periode II di Kuta Karang (Kuta Krueng), Samudera, Aceh Utara. Pada makam yang terbuat dari marmer itu terpahat ayat-ayat Alquran dengan kaligrafi yang indah.

Berdasarkan penjelasan dalam buku yang ditulis  Taqiyuddin itu, pada baris kedua inskripsi salah satu nisan makam sultan ini, seniman pemahatnya telah mengekspresikan makna dari gelar Raja Ubabdar (penakluk gelombang). Seniman memahat di bagian dasar baris ini huruf-huruf zay, ya’ dan nun pada “Zayn”; dal, ya’ dan nun pada “Al-‘Abidin’; ra’ pada “dar”, serta seluruh ba’ dan nun pada “bin” dengan motif gulungan ombak yang susul menyusul.

“Seniman, tampaknya, ingin mengungkapkan bahwa Sultan Zainal ‘Abidin adalah seorang penunggang ombak dalam memperluas wilayah Islam di Asia Tenggara”.

Menurut Taqiyuddin, pada salah satu dari dua nisan makam yang dipersembahkan untuk sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar tertulis kalimat yang artinya: “Semoga Allah membasahi kuburnya dengan embun pagi, cahaya, kelapangan dan kegembiraan sampai dengan hari bangkit”.[](idg)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar