TERKINI
FEATURE

Subuh Nasional 17 Agustus Digelar di Masjid Raya Baiturrahman

BANDA ACEH – Pada Kamis (17/8) bertepatan dengan Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, Forum Jamaah Subuh Aceh menggelar kegiatan Subuh nasional yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman,…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

BANDA ACEH – Pada Kamis (17/8) bertepatan dengan Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, Forum Jamaah Subuh Aceh menggelar kegiatan Subuh nasional yang berlangsung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Acara yang diinisiasi oleh AQL Jakarta ini digelar serentak di seluruh Indonesia. Informasi terakhir dari panitia pusat di Bandung, menyebutkan 81 Masjid mulai Aceh sampai Papua ikut serta dalam program Subuh Nasional dalam rangka memperingati 72 tahun peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Acara Syiar Persatuan ini berpusat di Masjid Trans Studio Mall, Bandung diisi tausiah oleh Ustaz Bachtiar Nasir dan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Dalam tausiahnya, Aher mengungkap mengungkap fakta bahwa jika pada tahun 80-an dan 90-an masjid-masjid di tanah air hanya diisi oleh kaum tua, tapi hari-hari ini, kita bisa menyaksikan masjid dipenuhi oleh anak muda. Sehingga menurutnya fenomena ini adalah sebuah wujud kemerdekaan.

Sementara di Banda Aceh, mengangkat tema yang sama “Syiar Persatuan, Mengisi Kemerdekaan dengan Quran”, acara yang dikoordinatori oleh Safwan Yusuf, dimulai dengan shalat shubuh berjamaah dilanjutkan dengan tausiah yang di isi oleh Ustaz H.Ameer Hamzah dan Ustaz Mursalin Basyah, Lc.,MA.

Ustaz Ameer Hamzah menyampaikan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia diraih oleh perjuangan para Ulama, dan para pahlawan nasional itu paling banyak dari Aceh karena Aceh tidak pernah menyerah kepada penjajah Belanda. Ameer melanjutkan, lebih dari 12 juta umat Islam menjadi korban penjajah. 

Senada dengan Ameer Hamzah, Ustaz Mursalin Basyah menyampaikan pentingnya kaum muslimin mengingat dan meluruskan sejarah yang saat ini terkesan dibengkokkan. Misalnya, sisi keulamaan para pahlawan nasional seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dhien yang merupakan seorang wanita shalihah dan taat tidak pernah diangkat sisi keulamaannya. Padahal mereka adalah para pejuang Islam yang membela tanah air dengan dasar jihad fii sabilillah.

Dasar inilah yang membuat takut para penjajah karena pejuang muslim tidak pernah takut mati, pejuang Islam mencari mati karena merindukan syahid di jalan Allah atau Menang. Sehingga penjajah mengubah strategi dengan cara menyusup dan mengadu domba sesama komponen anak bangsa.

Dengan cara inilah bangsa Indonesia dapat ditaklukkan. Maka persatuan umat sangatlah penting, kita harus mengingat dan melanjutkan jasa para pahlawan dan ulama, kalangan santri yang telah mengorbankan harta dan jiwanya demi kemerdekaan Indonesia.

Teuku Farhan, Sekretariat Pusat Forum Silaturahmi Kemakmuran Masjid Serantau (FORSIMAS)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar