SIGLI – Syahidnya Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Abdullah Syafii pada 2002 lalu membuat Aceh seperti perahu yang kehilangan kemudi. Pria yang akrab disapa Teungku Lah ini meninggal setelah terlibat kontak senjata dengan TNI gabungan ketika konflik Aceh masih terjadi.

Demikian pengakuan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Muzakir Manaf saat memberikan sambutan di Haul Teungku Lah, yang berlangsung di Kampung Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Minggu, 22 Januari 2017.

“Artinya, sosok Teungku Lah merupakan pemimpin yang sangat sabar dan ikhlas dalam berjuang untuk kepentingan dan kejayaan Aceh, sehingga Teungku Lah sangat tepat untuk jadi satu referensi bagi mantan kombatan GAM dalam mengantarkan perjuangan Aceh sampai pada cita-cita, tentunya hari ini melalui perjuangan politik yang telah disepakati bersama yaitu bersama Partai Aceh,” kata Mualem, sapaan akrab Muzakir Manaf.

Dia mengatakan keteladanan almarhum Teungku Lah semasa menjabat Panglima GAM dapat menjadi pelajaran bagi seluruh mantan kombatan. Terutama, kata dia, para pimpinan Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua Partai Aceh secara menyeluruh.

“Belasan tahun lalu, Teungku Lah telah meninggalka kita dan menghadap Sang Khaliq. Tentunya, perjuangan Aceh yang belum selesai menjadi tugas dan tanggung jawab bersama bagi seluruh rakyat Aceh, terutama bagi seluruh mantan kombatan yang masih hidup. Jangan pernah sia-siakan sisa perjuangan Aceh ini untuk ke depan dan terus kita berjuang,” kata Mualem.[]