KITA mengetahui bahwa dalam dunia tasawuf dan sufi futuwwah itu diinterpretasikan sebagai norma tingakh laku dan akhlakul karimah yang terpuji dalam meneladani para rasul dan nabi, sahabat, salafatus salih dan khalaf serta para waliyullah dan ulama sebagai warisatul ambiya. Salah seorang murid Syekh Abdullah al-Kharqani Al-Hambali yang mengarang kitab Manazil As-Sairin sebuah kitab berisi pendakian spiritual hasil karya Syekh Ismail Abdullah al-Hawari, beliau berkata: “Inti futuwwah artinya engkau tidak melihat kelebihan pada dirimu dan engkau tidak merasa memiliki hak atas manusia”. Jelas dari pemahaman diatas setiap orang yang meneladani jalan ini juga disebut al-fata yang secara harfiah (bahasa) bermakna pemuda yang tampan (budi pekertinya) dan gagah.
Juga pernah pada suatu ketika Ja'far bin Muhammad ditanya seseorang tentang konsep futuwwah tersebut. Namun beliau tidak langsung menjawab, tetapi bertanya balik kepadanya, “Apa pendapat kamu?”. Sang penanya pun menjawab: “Jika engkau diberi, maka engkau bersyukur, dan jika tidak diberi, maka engkau bersabar.” Kemudian Ja'far menambahkan, “Anjing pun di tempat kami juga bisa begitu.” Orang itu bertanya, “Wahai anak keturunan Rasulullah, kalau begitu apa maknanya menurut kalian?” lantas Saidina Ja'far menjawab, “Jika kami diberi, makan kami lebih suka memberikannya kepada orang lain lagi, dan jika kami tidak diberi, maka kami bersyukur.”