TERKINI
GAYA

Solresol, Bahasa Universal Buatan untuk Dunia

Bahasa buatan berdasarkan angka pernah dibuat oleh Profesor Erich Funke dari Universitas Lowa. Angka yang digunakan berdasarkan angka Arab.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 3.2K×

Pembentukan sebuah bahasa untuk digunakan berkomunikasi antarmasyarakat dunia yang berbeda bahasa juga dilakukan dengan menciptakan bahasa. Ada 600 bahasa buatan diciptakan, dengan nama misalnya, Kosmos, Occidental, Parla, Spokil, Universala, VolapÜk, Esperanto, Ido, dan Interlingua. Bahasa buatan tersebut di antaranya ada yang dibuat berdasarkan musik, lambang-lambang, dan angka.

Bahasa buatan berdasarkan angka pernah dibuat oleh Profesor Erich Funke dari Universitas Lowa. Angka yang digunakan berdasarkan angka Arab. Bahasa itu disebut Translingua Script. Misalnya, angka untuk pohon ialah 31, sedangkan untuk pria ialah 10.

Bahasa buatan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu bahasa apriopri dan aposteriori. Bahasa apriori (apriori language) adalah bahasa buatan yang disusun dari unsur-unsur yang tidak ditemukan dalam bahasa alamiah yang sudah ada dan hanya didasarkan klasifikasi ide secara logis. Bahasa aposteriori (a posteriori language) bahasa buatan yang didasarkan atas unsur-unsur gramatika, kosakata, dan sintaksis yang diambil dari salah satu atau beberapa bahasa alamiah. Bahasa buatan ada yang mampu menarik minat orang untuk menggunakannya, ada pula yang tidak.

Bahasa buatan yang dikembangkan dari pendekatan bahasa apriori yang berhasil adalah Solresol, sedangkan dari pendekatan bahasa aposteriori yang cukup berhasil adalah VolapÜk, Esperanto, Interlingua, dan Novial.

Solresol merupakan bahasa musik universal (Language Musicale Universelle). Bahasa ini dianggap sebagai bahasa buatan eksentrik karena kekhasannya. Solresol berhasil terkenal dan diminati pada abad ke-19.

Solresol diperkenalkan tidak lama setelah perang Napoleon dan masih memiliki pendukung setia hingga masa perang dunia pertama. Yang memperkenalkannya adalah Jean Francois Sudre yang merupakan seorang musisi. Ia berpendapat bahwa musik bukan saja berperan sebagai media komunikasi internasional, melainkan juga memiliki nilai yang dapat dipahami secara internasional, yaitu do, re, mi, fa, sol, la, si. Oleh karena itu, dia menyusun bahasa yang memiliki kosakata yang disusun dari ketujuh nada musik (yang merupakan suku kata) itu.

Kendati bahasa Solresol bukan merupakan bahasa yang didasarkan pada klasifikasi ide secara logis, paduan satu atau dua nada akan membentuk partikel dan pronomina. Ini dapat dilihat pada contoh berikut:

si = ya                          dore = saya

do = tidak                    domi = kamu

re = dan                       dofa = dia (pria)

mi = atau                     redo = milikku

sol = jika                      remi = milikmu

refa = miliknya (pria)

Paduan tiga nada digunakan untuk kata-kata yang sering ditemui, misalnya

doredo = waktu          doresol = bulan

doremi = hari               dorela = tahun

dorefa = minggu         doresi = abad

Paduan empat nada dibagi menjadi tujuh kelas bagian (disebut kunci) menurut nada pertamanya. Kunci do mencakup aspek fisik dan moral manusia, re digunakan untuk keluarga, rumah tangga, dan pakaian, lalu la untuk industri dan perdagangan, dst. Paduan lima nada mencakup nama tiga kategori: binatang, tumbuhan, dan unsur-unsur kimia.

Untuk membuat nama, istilah geografis, dll. Sudre menyediakan padanan dalam nada-nada dari huruf-huruf yang ada dalam abjad.

Dengan cara seperti itu dia merencanakan menggunakan tujuh kata terdiri dari satu suku kata, 49 kata terdiri dari dua suku kata, 336 kata terdiri dari tiga suku kata, 2268 kata terdiri dari empat suku kata, dan 9072 kata terdiri dari lima suku kata.

Lawan kata seringkali dinyatakan dalam bentuk kebalikan urutan suku kata dalam sebuah kata, sehingga misol berarti ‘baik’, tetapi solmi berarti ‘buruk’, domisol artinya ‘Tuhan’, sedangkan solmido berarti ‘setan’, begitu pula sollasi bermakna ‘naik’, tetapi ketika urutan suku kata dibalik, sollasi menjadi silasol yang berarti ‘turun’.

Karena merupakan nada-nada musik, Solresol bukan hanya dapat diucapkan, melainkan juga dapat dinyanyikan, atau dapat dimainkan dengan peralatan musik. Solresol juga dapat berfungsi sebagai bahasa isyarat untuk orang tuli dan bisu.

Dengan menggunakan, terompet, bel, atau bendera, Solresol dapat membantu komunikasi yang dilakukan dengan jarak jauh. Karena pertimbangan itu, Angkatan Laut Perancis dan Departemen Pertahanan Perancis menggunakan untuk tujuan militer.

Sudre memulai idenya tentang bahasa musik tahun 1817. Sepuluh tahun kemudian menyajikan karyanya pada Akademi Seni di Paris. Dia terus menyempurnakan bahasa itu hingga akhir hayatnya tahun 1862, tetapi baru diterbitkan tahun 1866. Solresol menjadi terkenal dan berhasil menempatkan statusnya sebagai salah satu tonggak gerakan bahasa buatan.

Meski demikian, Solresol memiliki banyak kelemahan, seperti tidak praktis di antara semua semua bahasa a priori, monoton, sulit dipelajari, sulit untuk mengidentifikasi kata tertentu pada saat komunikasi lisan, tidak memiliki landasan teori yang kuat. Atas dasar itu, bahasa ini tidak berhasil menjadi bahasa universal.

Sumber: Bambang Yudi Cahyono, 1995, Kristal-Kristal Ilmu Bahasa

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar