TERKINI
EKBIS

Sistem Pengairan Kendala Utama Petani Pidie

SIGLI - Sektor pengairan masih menjadi masalah besar hingga saat ini di Kabupaten Pidie. Hampir seluruh Kecamatan mengeluhkan ketersediaan air untuk pertanian. Hal itu mengemuka…

MURTI ALI LINGGA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 671×

SIGLI – Sektor pengairan masih menjadi masalah besar hingga saat ini di Kabupaten Pidie. Hampir seluruh Kecamatan mengeluhkan ketersediaan air untuk pertanian.

Hal itu mengemuka saat pertemuan koordinasi dan diskusi Tim Penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pidie tahun anggaran 2017 – 2022 dengan tokoh perwakilan kecamatan yang digelar sejak 1 Agustus hingga pertengahan Agustus 2017.

Para perwakilan kecamatan yang ikut dalam pertemuan itu meminta pemerintah yang baru untuk benar-benar membenahi bidang pengairan sehingga kebutuhan air bagi petani tertanggulangi.

Mukhtar, seorang tokoh masyarakat Kecamatan Pidie, dalam pertemuan diskusi tersebut mengatakan, sesuai dengan program Bupati dan Wakil Bupati Pidie, Meusigrak Gle, Blang, Laot, sektor pertanian berada di peringkat teratas mata pencarian masyarakat Pidie. Hampir 70 persen dari jumlah penduduk Pidie bergantung hidup di pertanian.

Rata-rata selama ini, lanjut Mukhtar, para petani mengeluhkan ketersediaan air dan sistem pengairan yang belum dibangun secara baik.

“Akibat pengaturan dan pembangunan saluran irigasi yang tak teratur membuat sebagian lahan tak kebagian air meski di musim rendengan,” kata Mukhtar yang juga seorang geuchik di Kecamatan Pidie.

Hal sama juga dikeluhkan masyarakat Simpang Tiga dan beberapa kecamatan lainnya. Mereka sangat berharap kepada pemerintah sekarang ini untuk dapat menyahuti keluhan para petani dalam hal kebutuhan air.

Selain air, pupuk juga diperbincangkan dalam rapat tersebut. Para petani sulit mendapatkan pupuk ketika musim tanam tiba, padahal pemerintah sudah memprogramkan pupuk bersubsidi untuk meringankan beban petani. Anehnya, pupuk itu sulit didapatkan di penyalur resmi.

“Pupuk juga sering langka ketika musim tanam. Kami menduga adanya permainan para mafia pupuk yang ingin meraup keuntungan lebih besar,” ujar Yusuf salah seorang tokoh masyarakat Simpang Tiga.[] (*sar)

MURTI ALI LINGGA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar