Jejeran padat sepeda motor di parkiran rumah makan dan kedai kopi menjelang buka puasa sudah menjadi pemandangan umum di Banda Aceh. Hampir semua tempat yang menjual makanan disesaki tua dan muda. Tujuannya satu, berbelanja makanan sembari menunggu waktu berbuka puasa.
Ramadan telah masuk hari kesepuluh. Setiap jengkal jalan utama di Banda Aceh selalu dipadati kendaraan menjelang waktu berbuka. Berbagai jenis kendaraan terlihat sibuk lalu lalang. Dan kebanyakan kendaraan tersebut akhirnya parkir di sebuah rumah makan atau warung kopi.
“Menye di gampong droe neuh pat i buka puasa ureung dum,” tanya saya, memulai pembicaraan dengan salah seorang teman yang berasal dari sebuah desa di Aceh Utara setelah kami selesai menikmati nasi uduk di salah satu warung kopi di Banda Aceh.
“Menye di gampong long ureung rata-rata buka puasa i meunasah, pu lom aneuk muda,” kata dia yang merupakan santri dayah.
Tentu saja berbuka puasa di warung kopi dan warung makan merupakan pilihan cerdas mengingat mayoritas penduduk Banda Aceh adalah perantau seperti mahasiswa atau pekerja. Bagi seorang lajang tentu berbuka puasa bersama teman adalah pilihan tepat.
“Menye inoe wajar buka puasa di waroeng seubab rata-rata aneuk rantoe,” ucap teman saya yang sering dipanggil T.M., itu.
Warung kopi yang berlokasi di Lingke ini merupakan warung kopi keempat yang kami singgahi sejak awal Ramadan lalu. Kami memang sering buka puasa di warung kopi. Namun ada hal yang menarik perhatian saya sejak beberapa hari lalu tentang buka di warung kopi atau warung-warung lainnya. Yaitu salat magrib.
Sebelum menyantap nasi uduk kami menuju sebuah mushalla di lantai atas untuk shalat magrib. Hampir semua warung kopi di Banda Aceh menyediakan mushalla. Termasuk warung kopi yang kami singgahi.