Hal yang paling pokok dari Lebaran dan mudik adalah silaturahmi. Suatu kegiatan mempertemukan kita dengan kerabat dan sabahat. Bagi kita perantau, mudik menjadi alat kembali menyambung rasa. Mengenang hal-hal lampau. Saat seperti ini kita juga mengingatkan kembali budaya kita. Budaya yang mulai kita tinggalkan di kota. Rasa kebersamaan kita yang pupus. Kepedulian sosial yang renggang. Silaturahmi yang menipis. Hidup dalam kejaran waktu. Materialisme yang menggila.

Ini yang membedakan dengan semasa di kampung. Walaupun gampong juga digempur begitu hebat oleh modernis. Tapi budaya silaturahmi masih amat kuat. Budaya menghormati. Budaya saling membantu. Lebaran, mudik dan silaturahmi juga mengajarkan kepeda anak anak kita tentang budaya dasar kita. Mengenal strata masyarakat dan sosial. Mengenal berbagai hal yang membentuk masyarakat kita. Hal hal tradisional yang menunjukkan identitas kita. Merajut hubungan persaudaraan dan perkauman.

Anak anak sebagai generasi penerus tentu tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Agar identitas kita tidak hilang kemudian. Maka saat begini harus menjadi introspeksi begi kita orang tua. Sudahkah kita mewariskan berbagai identitas bangsa kita kepada generasi penerus. Di kampung kampung kita masih menggunakan bahasa ibu. Tapi kadang kadang anak anak kita tidak bisa bertutur dengan bahasa ini. Amat tragis bukan. Padahal bahasa adalah identitas sebuah bangsa yang paling pokok. Saat silaturahmi begini adalah janggal bila di kampung kita harus berbahasa nasional. Ini merupakan wujud inferioritas atas budaya kita.

Kita malu berbahasa ibu. Malu mengunakan bahasa nasional dengan dialeg lokal. Jangan kira ini terjadi serta merta. Tapi ini adalah hasil indoktrinasi yang kita terima mentah mentah. Suatu saat kita tidak bisa menyebut identitas kita yang melekat. Kita menjadi orang lain ketika bangsa bangsa lain sedang memperkuat identitasnya. Makanya  lebaran, mudik dan silaturahmi harus menjadi ajang introspeksi.

Ajang untuk membangun kebanggaan atas identitas kita. Ajang untuk memperkenalkannya kepada generasi penerus. Ajang untuk membangun kebanggaan bagi kita. Bahwa kita punya identitas. Punya budaya yang agung dan luhur. Karena jangan harap orang lain akan menjaga dan melestarikan budaya dan identitas kita. Saat begini adalah saat kita membangun kesadaran kolektif untuk mewariskan semua identitas kita. Satu hal yang tidak kurang penting dalam budaya kita pada hari raya adalah berziarah.

Mendatangi kuburan orang tua,saudara atau leluhur kita. Ini juga bagian untuk mengingatkan kita akan kehidupan lain setelah kehidupan kita didunia berakhir. Ini juga menjadi ajang nostalgia. Ajang refleksi diri terhadap petuah petuah orang yang sudah meninggal. Barangkali kita akan memutar ulang bagaimana orang tua kita berjuang untuk kita. Bagaimana orang tua kita menanam nilai nilai kepada kita. Bagaimana orang tua kita menebar kasih sayang kepada kita. Beberapa bait doa atau sedikit sedekah tidak akan mampu mengimbangi sedikit dari seluruh pengorbanan almarhum. Tapi mereka pasti amat bahagia bila kita memelihara,mengembangkan nilai nilai yang pernah mereka tanamkan. Menjaga nilai nilai luhur warisan mereka.

Berkhidmad dalam urusan dunia dan akhirat dengan agama yang sudah mereka ajarkan. Karena Allah juga mengatakan bahwa salah satu warisan yang berguna bagi si yang mati adalah anak yang saleh. Sekarang mari kita tanya pada diri sendiri. Apakah lebaran,mudik dan silaturrahmi yang sudah atau sedang kita jalani ini sudah sesuai harapan. Sudah sesuai dengan esensi dari even ini? Atau kah hanya menjadi ajang konsumtif yang menggila. Atau ajang pamer dan menyombongkan diri. Ajang untuk membedakan antara kita yang lebih dengan mereka yang kurang. Ajang menunjukkan kelas sosial kita. Ajang menunjukkan perbedaan antara kota dan desa. Bila semua ini yang kita lakukan maka kita patut lah jadi manusia gagal paham. Gagal memehami sebuah event. Gagal menjadi manusia berpendidikan.

Kita menjadi manusia yang kembali kekanak kanakkan. Suka memaherkan mainan baru dan sesuatu yang baru. Pertanyaan apa beda kita dengan anak anak kita yang beranjak remaja?[]