BANDA ACEH – “Asumsi saya, foto versi Cut Mutia yang tersebar sekarang telah direpro ulang pada 1970-an, atau pasca Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II tahun 1972, walaupun sebelum tahun tersebut sudah ada penggunaan gambar tersebut. Terkait PKA II dalam buku “Riwajat Hidup (Singkat) beberapa Orang Pahlawan Atjeh Zaman Pra-Kemerdekaan Menjambut PKA II, 1972” menjelaskan sekilas profil Cut Mutia tanpa menghadirkan gambarnya.“
Demikian salah satu kalimat yang ditulis Hermansyah, akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh, dalam blog pribadinya menjawab polemik gambar Cut Nyak Meutia di uang Rupiah baru keluaran Bank Indonesia. Hermansyah yang juga filolog asal Aceh ini turut mengupas siapa wanita yang dijadikan gambar ilustrasi Cut Nyak Meutia oleh BI hingga Ali Hasjmy tersebut.
Dalam tulisannya berjudul: “Reproduksi Foto Pahlawan Aceh Cut Mutia (1)”, Hermansyah kemudian mengunggah beberapa foto asli perempuan yang diilustrasikan menjadi Cut Nyak Meutia ini. Foto itu diambil dari koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) dengan nomor 1400103. Foto–yang kemudian diilustrasikan sebagai Cut Nyak Meutia–tersebut adalah hasil jepretan Nieuwenhuis, C.B. sekitar tahun 1901 di Kutaradja (Banda Aceh).
“Dengan demikian, foto tersebut “bukan Cut Mutia yang sebenarnya”. Dan selanjutnya foto tersebut direpro oleh para “pelukis” di era berikutnya. Dan tentunya jika gambar tersebut kurang tepat disebut Cut Mutia -jika anda tidak sepakat- silahkan hadirkan sumber otentik lainnya,” tulis Hermansyah.
“Namun demikian, saya setuju dengan banyak kawan-kawan untuk merekonstruksi kembali sejarah dengan subjektif dan komprehensif, dan lebih fokus pada substansi perjuangan Cut Mutia yang gagah berani memilih melawan kolonial Belanda, tidak jadi “lamiet”, sejauh mana pelajaran nilai-nilai perjuangan dan motivasi kepada generasi sekarang di sini. Maka, Pemerintah Aceh berkewajiban agar meluruskan sejarah, atau sebaliknya “pemerintah” menanggung dosa atas kesesatan sejarah yang kemudian diyakini oleh generasi berikutnya,” kata Hermansyah. (Baca selengkapnya di hermankhan.com).[]