TERKINI
INSPIRASI

Si Kecil Gemar Jatuhkan Barang? Mungkin Ini Alasannya

Mereka akan memberi isyarat pada orang dewasa untuk membantunya

DREAM Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 979×

SAAT si kecil berusia 10 bulan ke atas mungkin sedang senang-senangnya memegang dan menjatuhkan benda. Remote televisi, handphone, dan barang-barang lain mungkin jadi korban. Anda pun bisa jadi dibuat kesal karena barang-barang tersebut jadi rusak. Tapi coba perhatikan baik-baik, di balik tingkah yang kadang terasa menyebalkan itu, si kecil sedang belajar.

Ya, si kecil sedang belajar sebab dan akibat. Ketika menjatuhkan remote televisi, penutup batere terbuka dan batere berhamburan. Si kecil belajar 'oh jadi kalau aku menjatuhkan benda, maka akan ada sesuatu yang terbuka'. Dari situ anak belajar menyelesaikan masalah terkait membuka sesuatu benda yang tertutup.

Bayi memang memiliki tingkat ketertarikan yang tinggi dalam memecahkan masalah. Bahkan sejak masih sangat muda, bayi berusaha memecahkan masalah. Misalnya ketika mereka mencoba menemukan jari-jari dan kemudian mengisapnya. Demikian dikutip dari Departemen Pendidikan California dan ditulis pada Jumat (30/10/2015).

Seiring bertambahnya usia, bayi 'menantang' dirinya sendiri untuk memecahkan masalah yang lebih rumit. Misalnya cara untuk meraih mainan yang tergantung. Terkadang jika tidak bisa melakukannya, mereka akan memberi isyarat pada orang dewasa untuk membantunya. Isyarat bisa diberikan melalui tangisannya.

“Bayi dan balita memecahkan masalah dengan cara yang bervariasi. Menggunakan fisik, menggunakan skema belajar yang telah dikembangkan, meniru, menggunakan banda atau orang lain sebagai alat, juga menggunakan cara coba-coba,” jelas Departemen Pendidikan California.

Bayi sering dideskripsikan sebagai sosok yang memang lahir untuk belajar. Karena itu setiap hari tidak ada habis-habisnya mereka melakukan 'percobaan' untuk memperkaya pengalamannya. Dengan menangis, mereka tahu Anda sebagai orang tua akan menghampirinya.

Hal-hal semacam ini akan menjadi pengetahuan yang membantu bayi untuk memahami sifat-sifat benda, pola-pola perilaku manusia, juga hubungan antara peristiwa dan konsekuensi.

“Melalui pengembangan pemahaman sebab dan akibat, bayi membangun kemampuan mereka untuk memecahkan masalah, untuk membuat prediksi, dan untuk memahami dampak dari perilaku mereka pada orang lain,” jelas Departemen Pendidikan California.

Karena anak belajar sebab dan akibat, hal ini pun harus dipertimbangkan saat memberikan konsekuensi pada anak. Yang namanya konsekuensi tentu harus nyambung antara sebab dengan akibatnya.

“Anak nggak mau makan lalu dihukum dengan dikurung di kamar, itu kan nggak nyambung. Nggak mandi tepat waktu lalu dicubit, uang jajannya nggak dikasih. Itu kan nggak nyambung,” ucap psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi beberapa waktu lalu.

Jika anak tahu sebab akibat dan konsekuensi atas apa yang dia lakukan, maka anak akan lebih bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan. [] sumber: detik.com

DREAM
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar