SAAT si kecil berusia 10 bulan ke atas mungkin sedang senang-senangnya memegang dan menjatuhkan benda. Remote televisi, handphone, dan barang-barang lain mungkin jadi korban. Anda pun bisa jadi dibuat kesal karena barang-barang tersebut jadi rusak. Tapi coba perhatikan baik-baik, di balik tingkah yang kadang terasa menyebalkan itu, si kecil sedang belajar.
Ya, si kecil sedang belajar sebab dan akibat. Ketika menjatuhkan remote televisi, penutup batere terbuka dan batere berhamburan. Si kecil belajar 'oh jadi kalau aku menjatuhkan benda, maka akan ada sesuatu yang terbuka'. Dari situ anak belajar menyelesaikan masalah terkait membuka sesuatu benda yang tertutup.
Bayi memang memiliki tingkat ketertarikan yang tinggi dalam memecahkan masalah. Bahkan sejak masih sangat muda, bayi berusaha memecahkan masalah. Misalnya ketika mereka mencoba menemukan jari-jari dan kemudian mengisapnya. Demikian dikutip dari Departemen Pendidikan California dan ditulis pada Jumat (30/10/2015).
Seiring bertambahnya usia, bayi 'menantang' dirinya sendiri untuk memecahkan masalah yang lebih rumit. Misalnya cara untuk meraih mainan yang tergantung. Terkadang jika tidak bisa melakukannya, mereka akan memberi isyarat pada orang dewasa untuk membantunya. Isyarat bisa diberikan melalui tangisannya.
“Bayi dan balita memecahkan masalah dengan cara yang bervariasi. Menggunakan fisik, menggunakan skema belajar yang telah dikembangkan, meniru, menggunakan banda atau orang lain sebagai alat, juga menggunakan cara coba-coba,” jelas Departemen Pendidikan California.
Bayi sering dideskripsikan sebagai sosok yang memang lahir untuk belajar. Karena itu setiap hari tidak ada habis-habisnya mereka melakukan 'percobaan' untuk memperkaya pengalamannya. Dengan menangis, mereka tahu Anda sebagai orang tua akan menghampirinya.