BEBERAPA jam sebelum saya menuliskan tulisan ini, saya tengah duduk di balai bambu yang beratapkan daun nipah, yang menghadap ke ladang-ladang warga di kaki gunung. Di bawah sana, di jalan raya yang berkelok-kelok serupa anakonda yang tengah melilit mangsanya, beberapa truk pengangkut barang lalu-lalang, meninggalkan deru mesin yang menggantung di udara.
Saya memandang kosong pada hamparan hutan yang diam di hadapan saya. Ketika itu, pikiran saya terbawa pada hari-hari saat sepucuk senjata laras pendek, yakni colt tanpa pelatuk, tersampir di pinggang saya. Saat itu adalah hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun tatkala Pidie adalah sebuah medan perang. Setidaknya, medan perang bagi saya sendiri.
Melalui tulisan ini, saya ingin bercerita tentang beberapa peristiwa penting dalam hidup saya pada tahun-tahun 2000-an.
Ketika itu, saya adalah salah satu anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tergabung dalam Kelompok Agam Pidie. Itu nama sandi radio kami. Jumlah anggota di dalam kelompok kami berkisar 100-an orang. Setiap harinya, kami menjelajahi hutan belantara Pidie. Kunyet, Padang Tijie, hingga perbatasan Aceh Besar, adalah medan tempur kami. Wilayah I.
Tiga kilometer berjalan kaki, bahkan tak jarang pula, kami berjalan menelusuri jalan setapak di dalam hutan Tuhan itu dari pagi hingga sore hari. Pada malam hari, kami tidur di atas terpal (plastik) hitam. Kadang, kami tidur di atas rumput. Ketika persediaan makanan mulai menipis atau kadang telah habis total, sesekali, kami mencari pisang dan ubi.
Saat saya dan kawan-kawan saya kehabisan rokok, kami mencabut salah satu jenis rumput di dalam hutan. Lalu, kami mengeringkan rumput tersebut hingga akhirnya mereka bisa kami linting dengan kertas koran. Itulah rokok kami.
HARI-HARI itu tidaklah mudah. Tidak hanya desing peluru yang mengancam nyawa kami, tapi juga penyakit malaria tropika juga ikut merenggut nyawa kawan-kawan seperjuangan. Penyakit itu bukan hanya membikin meriang seluruh tubuh melainkan juga membikin orang yang terjangkit penyakit celaka itu menjadi gila. Setidaknya, kesimpulan itu saya tarik, berdasarkan perkataan-perkataan yang meracau, yang keluar dari mulut penderita penyakit itu.
Ada satu kejadian yang takkan pernah bisa saya lupakan seumur hidup, di mana seorang dari kawan seperjuangan saya terserang penyakit mematikan itu. Ia lari dari pasukan. Menghilang lebih dari dua minggu. Saat bergerak di dalam hutan untuk mencari tempat yang baru, di tengah perjalanan, kami menemukannya telah terkapar di atas dipan bambu yang sudah lapuk. Yang kami dapatkan di dekatnya, adalah tumpukan boh reum, yang ternyata menjadi makanannya dalam masa-masa pelariannya, yang disebabkan penyakit mematikan itu.
Mendapati pemandangan yang menyedihkan seperti itu, saya lantas merogoh tas untuk mengambil roti dan botol air putih, lalu memberikan mereka kepada kawan seperjuangan saya itu. Kami memapahnya dengan tandu yang kami buat alakadar dari benda-benda yang tampak di sekitar kami. Beberapa hari kemudian, ia menghembuskan napas terakhir.
Tidak ada di antara kami yang meninggalkan kawan yang dalam keadan sakit seorang diri di dalam hutan. Kami saling membantu satu sama lain. Seakan kami ini adalah saudara kandung.
Pada satu waktu yang lain, seorang kawan yang sedang sakit malaria berkata pada kami dengan suara parau, Tembak saya! Tolong tembak saja saya! Sudah cukup saya menyusahkan kalian!
Seorang kawan lainnya, yang kakinya sebenarnya juga sakit, berkata, Jangan kuatir, sebentar lagi kau akan sembuh. Yang penting, jangan tidur! Ayo bergerak.
Kawan seperjuangan saya yang kakinya sedang sakit itu, kemudian menggendong kawan seperjuangan yang sakit malaria.
Beberapa hari berikutnya, kawan seperjuangan saya yang sakit malaria itu menghembuskan napas terakhir. Ia kami kuburkan di dalam hutan belantara. Seperti yang menimpa beberapa kawan seperjuangan lainnya, baik yang meninggal dunia saat kontak senjata maupun yang sakit, kami memberi tanda pada kuburan mereka.