BANDA ACEH – Ia kembali membetulkan bantal yang menjadi sandaran kepalanya. Sesekali ia mengubah posisi tidur agar lebih nyaman. Tak jarang ia juga menarik selimut untuk menutupi kaki kirinya yang sudah tiada. Namanya Amin, ia terkulai lemas di atas tempat tidurnya.
Amin adalah salah seoarang anak yang lahir di bagian tengah Aceh tujuh belas tahun lalu. Ia lahir dengan kedua kaki normal sampai kanker menyerang tulangnya. Amin yang dulunya bisa berlari kini hanya terkulai di atas pembaringan karena kaki kirinya terpaksa diamputasi.
Pun demikian Amin tetap tersenyum. Saat portalsatu.com menyambanginya Rabu 16 November 2016 di rumah singgah penderita kanker, ia tak segan-segan memperlihatkan senyumannya. Meski terlihat ada sesuatu yang ia tahan dalam senyumannya itu. Sesuatu yang sulit dipahami oleh orang yang memiliki dua kaki utuh.
Amin kini tinggal di rumah singgah anak penderita kanker yang dikelola oleh Ratna Eliza sebagai founder Children Cancer Care Community (C-Four Aceh), sebuah komunitas peduli anak penderita kanker. Di rumah yang terletak di Lamprit, Banda Aceh itu ia bisa beristirahat sejenak sembari menunggu pengobatan selanjutnya yang akan dilakukan beberapa hari kemudian.
Dalam obrolan santai Amin bercerita ingin berjalan dan sekolah lagi. Atau jika tak mungkin demikian, ia tetap ingin mandiri tanpa menyusahkan orang lain. Amin ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Amin ingin jadi pengusaha.
“Kalau nggak bisa sekolah lagi saya ingin buka usaha saja,” ucap Amin pelan, ragu-ragu tapi masih berharap.