BANDA ACEH – Tidak dapat dibantah bahwasanya seni rupa dalam konteks seni ukir/pahat Aceh masa lalu telah menempatkan diri pada tataran atas antarbangsa dalam peradabannya di muka bumi ini.
Demikian kata seniman nasional asal Aceh, Said Akram. Ia mengatakan, spesifikasinya dapat kita saksikan pada indahnya batu-batu nisan Aceh masa kesultanan yang memiliki karekter dan gaya dengan corak serta ornamen yang beragam, memikat dan memiliki sentuhan kuat dari tangan dari si-empunya karya.
“Artinya: setelah kita berkeliling sampai ke ujung negeri bahkan ke berbagai belahan benua belum kita temukan yang namanya batu nisan yang menyiratkan kualitas seni tinggi seperti batu nisan Aceh. Dalam hal ini juga menjadi jawaban bahwa kejayaan Aceh di masa kesultanan, seniman merupakan bagian dari elemen lainnya yang terlibat secara langsung dalam menorehkan nilai-nilai kemajuan saat itu,” kata Said Akram, satu-satunya seniman dari Aceh sekarang, yang karya lukisnya ada di Museum Istana Negara.
Said mengatakan, sampai sekarangpun nilai-nilai yang telah ditorehkan oleh para seniman tersebut menjadi salah satu episentrum bukti penting yang dibanggakan hingga laris untuk bahan kajian dari berbagai kalangan intelektual baik dari Aceh maupun luar negeri.
“Dari bentuk, corak, jenis ornamen, pilihan bahan sangat jelas para kreator atau sang seniman pelaku bukanlah sosok sosok amatiran, mereka adalah para seniman yang memiliki ketajaman estetika rasa dan kehalusan teknis dengan penguasaan materi hingga dipadati berbagai ornamental baik floral dan lainnya maupun kaligrafi dalam berbagai jenis khat baik yang digayakan maupun bentuk baku seperta gaya Hasyem Al-Bagdadi yang mendunia itu. Menurut saya, batu nisan Aceh sudah selayaknya masuk dalam benda budaya UNESCO,” kata Said Akram di Banda Aceh, Selasa 28 Maret 2017.
