BANGLADES – Dari segi fisik, bangunan berbentuk aksara I itu tampak menonjol karena terbuat dari beton, berlantai keramik, beratap dan bercat cerah di antara gubuk-gubuk berdinding bambu dan beratap daun dengan tambalan terpal.
Di dalamnya terdapat tiga ruang dengan deretan bangku dan kursi kayu, papan tulis di depan ruang, sementara di pojok terdapat kursi dan bangku tunggal. Mulai pukul 08.00 hingga 15.00 gedung itu dipenuhi anak-anak.
“Terdapat 395 siswa di sekolah ini. Kita perlu menambah guru tetapi pemerintah hanya menyediakan empat guru. Bagaimana kami bisa mengajar dengan baik? Kami mengajar sehari penuh, kelas pagi mulai pukul 08.00 hingga 12.00. Kelas siang mulai 13.00 hingga 15.00,” kata salah seorang guru M. Amin.
Itulah gambaran sekolah bantuan dari rakyat Indonesia, yang disalurkan oleh lembaga kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), untuk wilayah konflik Rakhine. Sekolah diresmikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, pada Januari 2017.
Tapi satu ruang kelas ternyata sudah bocor sehingga tak digunakan lagi.
Hak atas foto AP
Image caption M. Amin mengajar tiga kelas dalam satu hari dan menerima gaji dari pemerintah negara bagian Rakhine.
Seperti orang-orang Rohingya pada umumnya di Myanmar, ia punya dua nama: M Amin nama Rohingya dan Maung Chit Khin, nama Myanmar. Kondisi ini sama dengan zaman Orde Baru di Indonesia ketika warga negara dari keturunan Cina lazimnya mengadopsi nama setempat.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Puskesmas di permukiman untuk orang Rohingya di Hla Ma Chay ini terletak di samping sekolah bantuan Indonesia dan hanya buka dua kali seminggu.
Seorang pengamat mengatakan ada jalan ke luar atas sentimen negatif terhadap kelompok Rohingya -yang oleh Myanmar tidak dianggap sebagai warga negara tetapi sebagai pendatang dari Bangladesh sehingga dipanggil 'orang-orang Bengali atau orang-orang Muslim'.
Cendekiawan asal Rakhine, Aung Myo Oo, berpendapat diperlukan niat baik dari kelompok-kelompok yang bertentangan di masyarakat untuk mengatasinya.
“Di tataran lapangan, kita harus mengukur tingkat toleransi baik dari kelompok Rakhine maupun komunitas lain dan melihat hal yang menjadi kesamaan untuk hidup berdampingan. Pada akhirnya mereka hidup di atas tanah yang sama meskipun permukimannya terpisah-pisah. Mereka minum air dari sumber yang sama,” jelasnya kepada BBC Indonesia.
Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ito Sumardi menuturkan pendekatan Indonesia terhadap konflik di Rakhine disambut Myanmar karena bersifat nyata di lapangan dan tidak 'hingar bingar'.
Hak atas foto BBC INDONESIA