BANDA ACEH – Pro-kontra lapangan gas abadi Blok Masela yang mempunyai cadangan gas terbesar di Indonesia saat ini, terus berlanjut. Kepanikan dan hilangnya akal sehat Amin Sunaryadi (AS), Kepala SKK Migas dalam menyikapi strategi offshore atau onshore menunjukkan ringkihnya nasionalisme, cenderung bersikap mental pejabat pemburu rente dan seperti anak kecil kehilangan permen.
Penilaian itu disampaikan Nazaruddin Ibrahim, Ketua Bidang Otonomi Daerah dan Daerah Perbatasan Seknas JOKOWI, sebuah organisasi pendukung Presiden Jokowi melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 21 Maret 2016. Nazaruddin Ibrahim mengutarakan terkait ruang publik yang disediakan oleh presiden untuk mendiskusikan pendekatan terbaik pengelolaan SDAkhususnya Blok Maselapro-kontra bukanlah sebuah kegaduhan melainkan media pencerahan dan bagian penguatan partisipasi publik yang tidak dipahami oleh AS.
Pro-kontra adalah sebuah “dialektika” untuk memberikan kecerdasan dan kesolidan berbangsa, menjelaskan hal-hal substantif yang selama ini dimanipulatif oleh Kepala SKK Migas sebagai “jongosnya” Sudirman Said (SS), ujar Nazaruddin akrab disapa Nazar.
Nazar menyebut kecerobohon dan kesesatan berpikir AS dan SS adalah pertama, old mind-set. AS dan SS hanya sekadar berburu pendapatan (foreign exchange), keruk dan jual untuk mendapat devisa, tanpa mind-set pengembangan Indonesia Bagian Timur sebagai “accelerator dan hub” dalam pengembangan sektor ekonomi yang mempunyai nilai tambah tinggi (industri petrokimia) dan mensinergikan potensi lokal lainnya yang berbasis kelautan.
Kedua, tidak transparan dalam informasi cadangan gas, berdasarkan Perkiraan Cadangan Terbukti Ditempat (GIIP): 27,6 TCF dan Perkiraan Cadangan Terambil (RF; 70%): 19,32 TCF, dengan prakiraan alokasi produksi gas 300 juta kaki kubik untuk industri petro kimia dan 4.5 mtpa LNG. Produksi ini dapat menyuplai industri petrokimia dan kilang LNG selama lebih dari 50 tahun, apalagi bila dihitung cadangan harapan dapat mensuplai lebih dari 70 tahun.
Demikian juga halnya kekhawatiran tidak amannya pipanisasi gas melalui jalur dasar laut ke pulau Selaru sejauh 90 km dengan kedalaman 1500 meter dan kelandaian dasar laut 2-3% adalah sangat mengada-ada dan membonsai anak bangsa untuk melahirkan maha karya di bidangnya, kata Nazar.
Nazar melanjutkan, dilain hal piping technology telah dipakai untuk mengalirkan gas oleh banyak negara, seperti pipa gas bawah laut Nyhama (Norwegia) Easington (Inggris) sejauh 1.166 Km dengan kedalaman 3.000 meter yang mengalirkan gas 2,500 juta kaki kubik/hari dan Blue Stream (Laut Hitam/Rusia)Turki sejauh 400 Km dengan kedalaman 2.200m yang mengalirkan gas 1.550 juta kaki kubik/hari, ujarnya.