SUBULUSSALAM – Pemerintah Aceh akan melakukan perluasan akses terhadap pembelajaran dan bahan ajar keaksaraan dalam rangka menjadikan Aceh sabagai daerah yang bebas dari buta aksara/buta huruf. Ini sesuai dengan gerakan nasional percepatan penuntasan tuna aksara yang dicanangkan oleh pemerintah.
Saat ini di Indonesia, tercatat masih ada sekitar 5,9 juta orang yang belum mampu mengeja dan menulis namanya sendiri. Angka-angka itu bukan sekadar deretan statistik buta huruf, tetapi memberi bahwa belum semua warga negeri ini bisa menuliskan Indonesia dalam secarik kertas, kata Sekretaris Daerah Aceh, Drs. Dermawan, MM saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Mendikbud) pada acara pembukaan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) tingkat Propinsi ke-50 di Lapangan Sada Kata, Desa Lae Oram, Kota Subulussalam, Senin, 9 November 2015.
Acara yang peringatan HAI ke 50 tingkat Provinsi Aceh tersebut mengangkat tema Keaksaraan untuk menumbuhkan budi pekerti. Kegiatan ini dipadukan dengan pameran hasil kreativitas pendidikan daerah yang diikuti oleh kontingen se-Aceh.
Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Subulussalam, Drs Salmaza, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Drs Hasanuddin Darjo MM, Kepala Dinas Pendidikan dari Kota dan Kabupaten se-Aceh serta Unsur Muspida, jajaran Pejabat Dan PNS Pemkot Subulussalam.
Menurut Mendikbud seperti dikutip oleh Sekda Aceh, pada 2010 penduduk Indonesia usia 15-59 tahun yang melek aksara sekitar 95,21 persen. Angka ini kemudian naik pada 2014 menjadi 96,3 persen.
Angka tersebut menunjukkan keberhasilan kita memenuhi target Deklarasi Dakar tentang Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education for All (EFA) bahwa Indonesia dapat menurunkan separuh penduduk tuna aksara menjadi kurang dari 5 persen pada 2015. Tapi angka itu juga berarti masih ada sekitar 5,9 juta orang yang belum mampu mengeja dan menulis namanya sendiri, katanya.
Tantangan aksara menurut Mendikbud bukan sekadar bisa membaca, tetapi juga mendorong yang bisa membaca untuk terus membaca dan menjadi generasi yang menjelajah lewat aksara yang ia baca.