JAKARTA Mepererat silaturahmi, sejumlah tokoh Aceh di Jakarta ngopi bareng di The Atjeh Connection, Slipi Jakarta Barat, Sabtu, 31 Oktober 2015.

Sejumlah tokoh tersebut, di antaranya Amir Faisal Ketua DPP Partai Hanura yang juga putra kelahiran Aceh, Rafly Kande Anggota DPD RI asal Aceh, H. Mahyuddin Adan aktor perdamaian Aceh, Marzuki Abdullah tokoh Aceh di Jakarta dan Islamuddin mantan Wakil Wali Kota Sabang.

Berdasarkan siaran pers diterima portalsatu.com, dalam pertemuan itu, para tokoh Aceh ini memperbincangkan isu-isu Aceh kekininan. Amir Faisal menyampaikan, persoalan Aceh hari ini, jika dikupas ada tiga problematika yang harus segera ditangani. “Persoalan kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan,” ujar Amir.

Kesejahteraan harus dibangun sesuai dengan konsep dan tersistematis. “Tidak boleh lagi bertumpu pada APBA saja, tapi pemimpin Aceh harus berani mencari sumber dari luar seperti dana-dana CSR yang dimiliki BUMN, kemudian dikelola menjadi sebuah program yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat. Paradigma mengenai APBA harus diubah,” ujar politisi asal Aceh ini.

Persoalan kemiskinan di Aceh sudah menjadi persoalan yang klasik dan seperti tidak ingin diselesaikan. “Harusnya potensi-potensi yang ada di Aceh mampu dikelola dengan baik, yang kemudian bermanfaat bagi masyarakat. Jangan malah sibuk mencari investor yang kemudian si investor mengambil manfaat dari potensi di Aceh dan rakyat Aceh tidak merasakan apa-apa. ini seperti istilah “buya krueng teudeng-deng, buaya tameung meuraseuki, (orang daerah tidak dapat apa-apa, sedangkan orang luar mendapatkan rezeki),” lanjutnya.

“Bila persoalan kesejahteraan terselesaikan, maka pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya akan mudah ditangani,” ujar Amir.

Sementara itu, Rafly Kande juga mengatakan, “Saya berharap pemerintah dapat memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Aceh  secara baik demi kemaslahatan masyarakat Aceh ke depan,” katanya.

Apalagi, menurut Rafly, pemerintahan Zikir (Zaini-Muzakir) sudah tidak lama lagi. “Jadi harapan kita di sisa jabatan mereka dapat mengoptimalkan semuanya,” ujar Rafly.

Sedangkan H. Mahyuddin Adan berharap para pemuda dan tokoh Aceh yang ada di Jakarta dapat kembali ke Aceh untuk membangun Aceh yang lebih baik. Karena, menurutnya, sangat banyak tokoh Aceh di luar yang memiliki kapasitas untuk membangun Aceh. “Jangan sampai perdamaian di Aceh menjadi hilang maknanya, hanya karena sekelompok orang yang tidak baik dalam mengelola Aceh”.[]