TERKINI
HEALTH

Seberapa Penting Al-Aqsha di Mata Zionis, Mengapa Diklaim Kuil Sulaiman?

Pertanyaan yang cukup menarik adalah sepenting apakah posisi Masjid al-Aqsa di mata orang-orang Zionis sehingga mereka begitu terobsesi mencaplok situs tersebut? Mitos Kuil Sulaiman (Temple…

VIVA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

Pertanyaan yang cukup menarik adalah sepenting apakah posisi Masjid al-Aqsa di mata orang-orang Zionis sehingga mereka begitu terobsesi mencaplok situs tersebut? Mitos Kuil Sulaiman (Temple of Solomon) adalah jawabannya.

Selama ini, orang-orang Yahudi, terutama kalangan Zionis, meyakini bahwa Raja Solomon (Nabi Sulaiman dalam Islam —Red) pernah membangun haikal atau kuil pertama Yahudi kuno di Yerusalem. Mereka mengklaim kuil tersebut berada di lokasi Haram asy-Syarif sekarang—yang oleh orang-orang Barat disebut sebagai Temple Mount.

Atas dasar asumsi itulah, kaum Zionis meluncurkan beberapa proyek arkeologi di sekitar kompleks Baitul Maqdis untuk menemukan keberadaan Kuil Sulaiman. Pada 1970, pemerintah Israel memulai penggalian secara intensif di sisi selatan dan barat luar tembok Masjid al-Aqsa.

Orang-orang Palestina menduga kuat penggalian terowongan di bawah Masjid al-Aqsa itu hanya bertujuan untuk melemahkan fondasi tempat suci umat Islam tersebut. Namun, tuduhan itu ditampik oleh Israel.

“Kami tidak mencoba meruntuhkan al-Aqsa. Karena ekskavasi yang kami lakukan berjarak 70 meter arah selatan dari masjid itu,” kata arkeolog Israel Finkelstein dalam artikel “In the Eye of Jerusalem's Archaeological Storm” yang diterbitkan the Jewish Daily Forward pada Mei 2011.

Selanjutnya, Departemen Arkeologi Kementerian Agama Israel kembali menggali terowongan di dekat bagian barat Masjid al-Aqsa pada 1984. Utusan khusus UNESCO di Yerusalem, Oleg Grabar melaporkan, struktur dan bangunan di kompleks Haram asy-Syarif semakin memburuk kondisinya lantaran menjadi rebutan antara Israel, Palestina, dan Yordania.

Pada Februari 2007, Israel melakukan penggalian lagi di bawah kompleks Baitul Maqdis. Kali ini, lokasi ekskavasi mereka semakin mendekati al-Aqsa, yakni hanya berjarak 60 meter dari masjid tersebut. Penggalian itu kembali memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Dugaan bahwa Israel memang tengah berusaha menghancurkan fondasi al-Aqsa pun semakin menguat.

Sampai sejauh ini, belum ada tanda-tanda keberadaan sisa-sisa Kuil Sulaiman di kompleks al-Aqsa. Dari sekian banyak penggalian yang dilakukan, Israel hanya menemukan terowongan kuno peninggalan Raja Jeconiah (yang memerintah Kerajaan Yehuda/Israil Selatan pada 598-597 SM).

“Kaum Zionis mengklaim upaya mereka mencari Kuil Sulaiman yang hilang telah berhasil hanya lantaran menemukan reruntuhan terowongan Raja Jeconiah. Padahal, temuan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kuil Sulaiman. Terowongan itu juga tidak memiliki makna keagamaan apa pun,” ujar Kais al-Kalby dalam karyanya History of al-Aqsa.

Klaim Kuil Sulaiman

Sebagian kalangan Yahudi, terutama kelompok Zionis, mengklaim Solomon Temple alias Haikal Sulaiman sebagai salah satu harta karun milik mereka. Meski ada kalangan yang menganggap lokasi reruntuhan kuil itu terdapat di bawah Masjid al-Aqsha di Yerusalem (Baitul Maqdis), keberadaan bangunan kuno itu sendiri sesungguhnya masih menjadi misteri sampai hari ini.

Zionis yang bernaung di bawah bendera Israel pun menjadikan mitos tersebut sebagai salah satu alasan pembenaran mereka untuk menganeksasi Palestina. Pertanyaannya, benarkah Kuil Sulaiman berada di bawah Masjid al-Aqsha?

Kais al-Kalby dalam “History of al-Aqsa Mosque” menuturkan, sejarah Masjid al-Alqsha berawal dari zaman Nabi Ibrahim AS (yang diperkirakan hidup antara 3132-2951 SM). 

Dialah orang yang pertama kali mendirikan tempat ibadah yang kemudian dikenal sebagai Bait Allah atau Beteyel di Yerusalem. Nabi Ibrahim pula yang mula-mula membangun Ka’bah di Makkah bersama anak sulungnya, Ismail AS.

“Nabi Ibrahim menyebut Beteyel sebagai 'al-Aqsha' yang secara harfiah berarti 'tempat terjauh'. Maksudnya, lokasi Beteyel berada jauh dari Ka’bah di Makkah,” tulis al-Kalby.

Pada masa selanjutnya, Nabi Yaqub AS (cucu Nabi Ibrahim) menjadikan Beteyel sebagai tempat ibadah bagi semua orang yang beriman di Palestina. Beberapa tahun kemudian, Nabi Yusuf AS (putra Yaqub) memegang jabatan tinggi di Mesir. Ia lalu menyuruh semua keluarganya (Bani Israil) pindah ke negeri Firaun, meninggalkan Palestina yang kala itu tengah dilanda bencana kelaparan.

Zaman berganti, status sosial Bani Israil pun jatuh ke dalam perbudakan bangsa Mesir. Allah lalu memerintahkan Nabi Musa AS untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan tersebut dan membawa mereka kembali ke tanah Palestina. Namun, Bani Israil menolak seruan Musa dan lebih memilih tinggal di Gurun Sinai. Akibatnya, hiduplah mereka dalam kondisi terlunta-lunta di padang tandus itu.

Setelah 40 tahun lamanya Bani Israil mengembara di Gurun Sinai, Nabi Daud AS tampil sebagai pemimpin. Dia berhasil menaklukkan Palestina dan menguasai Yerusalem sehingga berdirilah Kerajaan Israil untuk pertama kalinya.  

Selanjutnya, Nabi Sulaiman AS (putra Daud) mewarisi takhta Kerajaan Israil. Dia membangun kembali Masjid al-Aqsha dengan bantuan penduduk pribumi, di samping istana kerajaan yang megah di Yerusalem. 

Menurut keyakinan Islam, Nabi Sulaiman dianugerahi kemampuan untuk memahami bahasa hewan dan berkomunikasi secara bebas dengan mereka. Tidak hanya itu, karena hikmah dan kasih sayang yang Allah berikan kepadanya, Nabi Sulaiman juga mampu berkomunikasi dengan bangsa jin yang kemudian dia gunakan sebagai pembantunya.

Sejarawan Muslim, al-Suyuti, memberikan gambaran tentang peranan bangsa jin dalam pembangunan Baitul Maqdis. Awalnya, kata dia, Allah menyuruh Sulaiman untuk membangun kembali Masjid al-Aqsha. Raja Bani Israil itu lantas mengumpulkan semua orang yang paling bijaksana di Yerusalem, termasuk Ifrit yang merupakan kelompok terkuat dari bangsa jin, untuk merancang dan membangun Bait Allah tersebut.

Beberapa dari kalangan jin itu ada yang kebagian tugas memotong kayu balok, memasang tiang, dan menambang marmer untuk melapisi lantai bangunan. Selain itu, ada pula yang disuruh menyelami lautan dalam untuk mengambil mutiara dan terumbu karang yang nantinya digunakan sebagai bahan dekorasi tempat ibadah itu.

“Beberapa mutiara yang mereka ambil itu ada yang berukuran sebesar telur ayam atau burung unta. Jadi, mulailah Sulaiman membangun Bait Allah. Para jin diperintahkan memoles dinding bangunan itu dengan batu permata dan zamrud,” tutur al-Suyuti.[]Sumber:republika

VIVA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar