Tak dapat dipungkiri bahwa bahasa merupakan alat utama untuk berkomunikasi dengan sesama. Tujuannya agar di antara mereka terjalin komunikasi yang harmonis dan kesulitan berbahasa dapat dihindari. Orang yang berlatar belakang bahasa Aceh, misalnya, dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang yang berlatar belakang bahasa Gayo bila menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pula bila kita lihat dalam level internasional. Dua individu yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula akan mudah berkomunikasi manakala bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa perantara mereka. Namun, bahasa-bahasa itu belum universal, yaitu belum dapat digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Meski demikian, ada sebagian orang mengalami kesulitan berbahasa secara universal karena perbedaan sistem kebahasaan setiap masyarakat bahasa. Banyak terjadi kesalahpahaman, pertengkaran, peperangan, dan bencana lain karena ketidaktahuan tentang apa yang dimaksud oleh orang lain itu. Sebagai contoh, seorang pedagang suku cadang mobil di Italia memesan suku cadang mobil dari Venezuela, tetapi yang diterima adalah suku cadang traktor pihak pengekspor salah menafsirkan pesan yang bermakna mobil. Para penumpang Kapal Andrea Doria harus tenggelam dalam sebuah bencana laut karena mereka tidak dapat memahami petunjuk untuk menyelamatkan diri yang disampaikan dalam bahasa yang tidak dipahami para penumpang kapal itu.

Akibatnya, banyak orang menciptakan bahasa-bahasa baru untuk mengatasi kesulitan itu. Bahasa baru yang dimaksud di sini adalah bahasa yang memang diciptakan, bukan yang telah ada bersamaan dengan adanya manusia di dunia ini. Usaha penciptaan bahasa universal itu dapat ditelusuri kembali dalam Mitologi Menara Ababil.

Mitologi Menara Ababil mengisahkan kegagalan manusia membangun tangga menuju surga karena keragaman bahasa yang diucapkan. Mitologi itu secara tidak langsung menyampaikan pada manusia bahwa kerja sama di antara manusia sulit dilakukan kalau bahasa yang digunakan tidak dapat dipahami secara universal. Cerita itu juga menunjukkan adanya cita-cita ke arah bahasa tunggal untuk seluruh manusia atau satu bahasa yang dipakai untuk seluruh umat manusia/bahasa universal.

Pada abad pertama sebelum Masehi,  Diodorus Siculus (seorang sejarawan Yunani) dan Galen (seorang dokter Romawi) sudah memiliki ide menciptakan bahasa untuk alat komunikasi utama penduduk dunia ini. Cita-cita itu ternyata juga diikuti oleh orang-orang zaman berikutnya sampai pada orang-orang yang hidup dalam era revolusi industri. Tidak hanya sekadar cita-cita, tetapi juga mengarah ke upaya pembuatan bahasa universal. Upaya mewujudkan bahasa universal semakin digalakkan sejak awal abad ke-17.

Descartes, misalnya, sudah memikirkan tentang sebuah bahasa yang memiliki lambang-lambang sempurna sehingga tidak memungkinkan adanya kekeliruan dalam penggunaan bahasa itu oleh manusia.

Singkatnya ada upaya-upaya yang telah dilakukan oleh manusia sejak dulu untuk menciptakan bahasa universal. Upaya-upaya itu di antaranya adalah menghidupkan bahasa yang telah mati/punah, bahasa nasional sebagai bahasa universal, menciptakan bahasa buatan, dan menggunakan bahasa alamiah.[]