HARI sudah petang saat portalsatu.com tiba di rumah Sariyah, 50 tahun, warga Gampong Alue Raya, Kecamatan Rantau Seulamat, Aceh Timur, Selasa, 29 Maret 2016. Tetapi matahari masih bersinar garang, belum terlihat ada tanda-tanda gelap akan segera muncul.

Saat portalsatu.com tiba, perempuan paruh baya itu terlihat sedang duduk di depan rumah bersama sejumlah kerabatnya. Sontak saja wajah mereka terlihat kebingungan, apalagi melihat Ketua Aceh Human Foundation Adi Maros dan Nurdin bin Ismail alias Din Minimi juga turut serta.

Di antara mereka rupanya ada yang mengenali wajah Din Minimi walaupun agak ragu-ragu. Bahkan ada yang berceletuk, “Yeh na Din Minimi lagoe.” Ada juga yang bertanya apakah kedatangan dua orang ini untuk memberikan rumah bantuan.

Sariyah, sang empunya rumah adalah seorang janda konflik. Perawakannya kecil. Tubuhnya dibalut daster dan kerudung besar saat itu. Namun terlihat dengan jelas kulit wajah dan tangannya yang hitam legam. Sariyah terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Kondisi rumah tempat ia tinggal juga sangat memprihatinkan. Sehari-hari perempuan yang biasa dipanggil Wa Sariyah ini tinggal di sebuah rumah, yang pantas disebut gubuk. Gubuk itu berdindingkan jalinan bambu dan beratapkan daun rumbia. Di depan rumah ada sebuah panteu tempat Sariyah sering duduk melepas lelah. Suaminya meninggal pada saat konflik melanda wilayah itu.

“Lakoe long meninggai jitimbak lam konflik, geukubah aneuk dua boh, susah that hudep long pak, suami saya meninggal tertembak saat konflik, meninggalkan dua anak, hidup kami susah,” ujar Sariyah kepada portalsatu.com. 

Saban hari ia hanya bekerja sebagai buruh di salah satu tempat pembuatan (dapur) arang di Alue Raya. Ia melakukan semua itu demi menafkahi kedua anaknya. Bersama suaminya yang meninggal pada 2003 silam, Sariyah memiliki dua anak perempuan. Yang sulung berusia 25 tahun dan yang bungsu berusia 12 tahun.

Upah dari memeras keringatnya itu, ia bisa mendapat penghasilan rata-rata Rp 30 ribu perhari. Dengan uang itulah Sariyah memenuhi semua kebutuhan hidupnya bersama dengan dua anak gadisnya.

“Long jak angkot kaye meuuroe bak gob, kadang-kadang na raseuki, menyoe hana kaye hana raseuki, saya buruh harian, kadang-kadang ada rejeki, kalau tidak ada kayu tidak ada rejeki,” katanya.

Sejurus kemudian Sariyah mengajak tamunya masuk ke dalam rumah. Jangan bayangkan ada sofa empuk atau lantai berlapis keramik. Karena yang ada di dalam rumah itu hanyalah selembar tikar pandan yang terbentang di atas lantai tanah. Tikar itulah yang menjadi alas tidurnya bersama dua buah hatinya saban malam.

Adi Maros dan Din Minimi, yang datang ditemani Geuchik setempat Muhammad Habibi, sempat menitikkan air mata melihat kondisi rumah itu.

“Nyoe wate malam pat neu eh mak, peu ateuh tika nyoe sagai, kalau malam tidur di sini ya,” tanya Adi Maros.

Lantas Sariyah menjawab, “pane na laen teuma nyak hai, nyan keuh nyan kasoe ngon long eh ngon aneuk miet, mana ada lain nak, itulah kasur yang menjadi alas tidur saya dengan anak-anak.”

Din Minimi turut berkomentar serius melihat kondisi Sariyah. “Coba kita lihat kondisi yang hari ini Aceh melimpah dengan uang, tapi kondisi rakyat seperti ini, apalagi ini korban konflik yang suaminya telah meninggal, cie neu kalon peu na salah yang long tuntut barokon lam uteun,” ucap Din Minimi.

Selain Sariyah, Adi Maros dan Din Minimi juga bertemu dengan korban konflik lainnya, Hamdani. Tiga adik Hamdani meninggal dunia saat konflik yaitu Jafaruddin, Safwi dan Mahdi. Ketiga adiknya merupakan anggota GAM.

Namun, menurut Hamdani, tidak ada bantuan apapun yang diterima oleh keluarga adiknya itu.

“Lhee dro adek kandung long meninggai lam konflik, jitimbak dikeu mata long, tapi sampoe uroenyoe keluarga jih hana soe pakoe, tiga orang adik kandung saya meninggal saat konflik, ditembak di depan mata saya, tapi sampai hari ini tidak ada yang peduli,” ucap Hamdani.

Hamdani berkisah, Gampong Alue Raya dulunya merupakan daerah basis GAM. Beberapa tokoh GAM pernah bersembunyi di situ di antaranya almarhum Ishak Daud, Syahrul Syamaun alias Linud (wakil bupati Aceh Timur) dan Ridwan Abubakar alias Nek Tu (anggota DPR Aceh).

“Nyan ureung-ureung nyan mandum na geumesom hinoe awai, teuma jino hoe ka ureng nyan? Orang-orang itu pernah bersembunyi di sini, sekarang di mana mereka?” tanya Hamdani.

Hamdani berharap pemerintah tidak menutup mata dengan permasalahan ini. “Minimal na lah bantuan ke aneuk- aneuk adek long nak jeut dimeuduep, minimal adalah bantuan untuk anak-anak adik saya biar bisa bertahan hidup,” katanya.

Pada kesempatan itu Adi Maros turut memberi sembako dan menyantuni sejumlah anak yatim korban konflik.[](ihn)