TERKINI
FEATURE

Salam Seni Lintas Samudra

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai Sabtu malam, tanggal 19 Maret 2016, di taman Budaya Aceh Banda Aceh. Tepatnya di kantinnya yang kini disewa menjadi Jambo…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 991×

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Sabtu malam, tanggal 19 Maret 2016, di taman Budaya Aceh Banda Aceh. Tepatnya di kantinnya yang kini disewa menjadi Jambo Kupi Apa Kaoy. Adalah kejadian yang tiada terduga, telah berlaku dengan khidmat dan seadanya. Para seniman Aceh, Sulaiman Juned yang merupakan seorang dosen ISI Padang Panjang dan calon kandidat doktor di ISI Surakarta. Di sampingnya salah seorang dosen ISBI Aceh di Jantho, Rasyidin atawa sering dipanggil dengan nama Wig.

Dan pada pukul dua puluh satu lewat lima belas menit, yang ditunggu telahpun berhadir ke tempat tersebut. Adalah mereka itu para seniman dari Negeri Jiran Malaysia, di antaranya yang berhadir Dr Zabidin Haji Ismail. Ia merupakan presiden dari salah satu group penulis Malaysia. Tuan Muhammad Faris, Tuan Ahmad Sholeh dan seorang lelaki lagi yang tiada akannya asing bagi saya, iaitu kanda Wacana Minda.

Setelah perkenalan singkat antara kami berlangsung. Bermulalah percakapan akan percakapan terutama yang berkaitan dengan seni dan bermacamnya, keakraban seketika menjalar dengan sendirinya diantara kami yang berhadir di kedai kopi apa kaoy tersebut. Tukar-tukaran buku pun berlangsung. Aduen Sul (Nama akrab dari dosen isi padang panjang Sulaiman Juned) turut memberikan buku antologi puisi terbarunya kepada tetamu dari negeri tetangga tersebut.

Beberapa sa’at kemudian, terdengar “Setelah ini kita akan sama-sama membaca puisi.” Adapun yang berkata demikian itu ialah Muhrain. Ia juga merupakan salah seorang penyair aceh, tepuk riuh suara tangan pun bergemuruh, memecahkan lena di malam Ahad tersebut. wacana ini tiada dalam program. Dan pada dasarnya untuk pertemuan antara beberapa dari penyair-penyair senior Aceh dan Malaysia ini tiada sesiapapun yang merencanakannya.

Baik dari pihak seniman tanah Rincong dan juga seniman negeri Jiran itu. Ini merupakan bahagian daripada acara yang tiada disangka-sangka.

“Ini suatu pertemuan yang sangat elok dan bersahaja,” ucap pria yang memakai topi koboy, ia adalah Tuan Ahmad Sholeh. Dan saya turut memperhatikan seorang perempuan yang duduk di luar kedai kopi tersebut. Ia hanya duduk sendiri dan terus memperhatikan kami. Saya tahu puan tersebut ialah salah seorang dari tetamu negeri Jiran itu, kerana datangnya bersama para tetamu itu.

Di sa’at kami mulai membaca puisi, adalah kesempatan pertama itu bagi Tuan Ahmad Sholeh, ia membaca salah satu puisi dari buku penyair Aceh, serta dipadukan dengan irama lagu sehingga menjadi syahdu. Untuk giliran kedua iaitu saya, saya pun membaca salah satu puisi dari bukunya kanda Wacana Minda.

Giliran selanjutnya, Tuan Muhammad Faris, ia juga membaca puisi dari buku Aduen Sul. Dan setelah itu Muhrain, ia membaca sekaligus memaparkan sedikit tentang satu puisi yang ada di dalam buku tersebut. Perempuan tadi yang duduk, terlihat mendekat dan terus mengabadikan siapa sahaja yang sedang membaca puisi di kala itu. Ternyata puan tersebut istri dari Dr Zabidin Haji Ismail.

Aduen Sul yang kena giliran membaca sekarang, dengan gaya khasnya, ia terus bersenandung sampai bacaan itu selesai. Ziarah Gempa, salah satu puisi karangan Aduen Sul sekarang dibacakan oleh kanda Wacana Minda. Begitu juga kanda Zulkirbi membacakan satu puisi karya Wacana yang berjudul “Tanah Ini Tanah Kita.” Ia membacakan itu kerana sabab kita serumpun.

“Saya sengaja memilih judul ini, kerana kita sama, serumpun (Rumpun Melayu),” ujar seniman tersebut. Bang Wig (Rasyidin) pun turut serta membaca puisi dari buku karya penyair Malaysia (Wacana Minda) itu. Senada jua dengan Dr Zabidin, ia membaca puisi karya penayair Aceh (Aduen Sul) yang berjudul Geurute oleh sabab ia teringat akan masa lalunya di Aceh.

“Saya pernah ke Geurute pada tahun 1992 dulu,” kisahnya mengingat akanpada waktu-waktu ia berkunjung ke Aceh tempo dulu. Dan setelah itu kanda Wacana Minda juga turut berkomentar atas acara yang sedang berlaku di kala waktu, ia berkata.

“Salam Seni Linntas Samudra, merupakan tema yang sangat sesuai untuk acara kita malam ini. Dan kata-kata ini saya dapatkan dari novel “Aceh 2025” karya saudara Thayeb Loh Angen, saya menyukai kata-kata ini,” ujarnya.

Pada sa’at gilirannya Ampon Nazar, ia membacakan puisi karyanya sendiri (semacam monolog) dengan cara tersendiri juga. Mujiburrahman, Zakir To, merekapun begitu bersemangat. Dan di akhir semua itu Apa Kaoy juga dapat bagian. Dengan cara tersendiri, ia pun bisa membuat sekalian kami terpesona.

Sebelumnya, Edi Rahman, salah seorang putra Aceh yang kini berbisnis di Malaysia, adalah ia yang membawa tetamu dari negeri Jiran tersebut ke taman Budaya Aceh Banda Aceh. Bang Islahuddin, dengan kamera di tangan seperti tiada puas-puasnya mengabadikan sekalian kami yang berhadir pada malam Ahad tersebut.

Dan setelah semua perhelatan yang tiada disangka-sangka itu pun selesai. Pelaku seni dari tetangga seberang pun minta diri untuk pulang ke hotel di mana mereka menginap selama berada di Aceh, kerana harus mengemas semua barang-barang bawaan oleh sabab hari Minggu pagi, tanggal 20 Maret 2016, sekalian mereka kembali ke negerinya itu.

“Selamat pulang duhai saudara kami dan suatu masa nanti, kita akan berjumpa lagi,” saya berguman di dalam hati pada malam tersebut.[]

Penulis: Syukri Isa Bluka Teubai, ASHaF (Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar