BANDA ACEH - Seniman antarbangsa (internasional) asal Aceh, Said Akram, mengatakan, seni ukir khas Aceh yang dibuat di batu nisan Aceh merupakan karya para maestro…
BANDA ACEH – Seniman antarbangsa (internasional) asal Aceh, Said Akram, mengatakan, seni ukir khas Aceh yang dibuat di batu nisan Aceh merupakan karya para maestro ukir abad kesultanan.
“Dari hasil karya yang dapat dilihat di seluruh batu nisan Aceh, dipastikan itu karya para maestro. Hanya orang yang benar benar ahli dan berpengalaman bisa memahat seni yang begitu rumit di, batu. Di kayu saja sulit, apalagi di batu. Dan itu dikerjakan oleh tim yang dipimpin oleh seorang maestro,” kata Said Akram, di Kompleks makam Tuan Di Kandang, Gampong Pande, Banda Aceh, Senin 3 April 2017.
Said mengatakan, tidak dapat dibantah bahwasanya seni rupa dalam konteks seni ukir/pahat Aceh masa lalu telah menempatkan diri pada tataran atas antarbangsa dalam peradabannya di muka bumi ini.
“Besar kemungkinan, untuk sebatang batu nisan saja, itu dilakukan oleh tim yang dipimpin seorang maestro. Para anggota membentuk batu menjadi bahan baku setengah jadi, dan mengukir sampai jadi dikerjakan sendiri oleh maestro. Satu batang batu besar saja, bisa memakan waktu sebulan lebih. Dan ada ratusan ribu batang batu nisan Aceh yang tersebar di beberapa negara,” kata Said Akram.
Pada kesempatan sebelumnya, Said Akram mengatakan, spesifikasinya dapat disaksikan pada indahnya batu-batu nisan Aceh masa kesultanan yang memiliki karekter dan gaya dengan corak serta ornamen yang beragam, memikat dan memiliki sentuhan kuat dari tangan dari si-empunya karya.
“Setelah kita berkeliling sampai ke ujung negeri bahkan ke berbagai belahan benua belum kita temukan yang namanya batu nisan yang menyiratkan kualitas seni tinggi seperti batu nisan Aceh. Dalam hal ini juga menjadi jawaban bahwa kejayaan Aceh di masa kesultanan, seniman merupakan bagian dari elemen lainnya yang terlibat secara langsung dalam menorehkan nilai-nilai kemajuan saat itu,” kata Said Akram, satu-satunya seniman dari Aceh sekarang, yang karya lukisnya ada di Museum Istana Negara.
Said mengatakan, sampai sekarang pun nilai-nilai yang telah ditorehkan oleh para seniman tersebut menjadi salah satu episentrum bukti penting yang dibanggakan hingga laris untuk bahan kajian dari berbagai kalangan intelektual baik dari Aceh maupun luar negeri.
“Dari bentuk, corak, jenis ornamen, pilihan bahan sangat jelas para kreator atau sang seniman pelaku bukanlah sosok sosok amatiran, mereka adalah para seniman yang memiliki ketajaman estetika rasa dan kehalusan teknis dengan penguasaan materi hingga dipadati berbagai ornamental baik floral dan lainnya maupun kaligrafi dalam berbagai jenis khat baik yang digayakan maupun bentuk baku seperta gaya Hasyem Al-Bagdadi yang mendunia itu. Menurut saya, batu nisan Aceh sudah selayaknya masuk dalam benda budaya UNESCO,” kata Said Akram.[]
Sekilas tentang Said Akram, baca di Said Akram, Mutiara Terpendam dari Aceh
