JAKARTA – Kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dinilai makin meluas. Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu berkomentar, persoalan agama jangan dicampuri dengan urusan politik.
Pernyataan itu disampaikan Ryamizard saat mengadakan silahturahmi dengan sejumlah ulama dan tokoh agama Islam se-Jabodetabek. Dia mengatakan kepada para ulama yang datang, jika keduanya disatukan maka akan mudah menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.
“Agama dengan politik jangan dicampur-campur, diborong jadi satu. Politik ini ada yang benar, ada juga yang tidak benar. Jangan dibalik-balik. Agama landasan politik, itu tidak benar, politiklah yang berlandaskan agama. Baru itu politik benar,” kata Ryamizard saat berbicara di aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (11/11).
Menurut Ryamizard, dunia politik sarat dengan adu kekuatan kepentingan masing-masing kelompok. Asumsi yang muncul dalam urusan politik rentan menimbulkan masalah sosial.
Sementara agama, kata Ryamizard, merupakan kebenaran yang berasal dari Tuhan. Karena itu, antara agama dan politik tak perlu disatukan. Sebab menurutnya, agama akan mudah disalahgunakan untuk kepentingan politik.
Jenderal purnawirawan itu meminta para alim ulama dan tokoh agama ikut menyampaikan di setiap khotbah keagamaan, bahwa persoalan agama tidak dicampuraduk dengan urusan politik. Ryamizard menyebut para ulama memiliki peran penting untuk ikut menyejukkan situasi di tengah masyarakat.