JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Rusia memperkuat kerja sama di sektor kelautan dan perikanan. Negeri Beruang Merah menanamkan investasi awal senilai Rp200 miliar untuk membangun empat Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu yang dilengkapi ruangan pendingin (cold storage) berkapasitas 300-500 ton di empat wilayah terluar RI.
Tiga tahun ke depan, total terdapat 20 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu yang akan dibangun di pulau-pulau terluar Indonesia.
Kerja sama ini, ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjastuti, merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Sochi, Rusia, Mei lalu.
Waktu Bapak (Presiden) ke Sochi sempat disinggung akan melakukan kerja sama. Nah, sekarang kami realisasikan. Kami dengan Blackspace mau bangun Unit Pengolahan Ikan di empat tempat saja dulu, kata Susi ketika melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Industri dan Perdagangan Federasi Rusia, Denis Manturov, di Jakarta.
Blackspace merupakan perusahaan besar Rusia di sektor energi dan pertambangan yang tengah melebarkan sayap ke industri perikanan.
Empat kawasan yang menjadi lokasi pembangunan Unit Pengolahan Ikan tahap awal ialah Lampulo Aceh, Untia Makasar, Sendang Biru Malang, dan Prigi Trenggalek. Keempatnya ialah pelabuhan ikan yang cukup menjanjikan untuk ikan jenis tongkol, tuna, dan cakalang. Ikan-ikan itu banyak diminati oleh sentra perdagangan ikan internasional.
Kerja sama tak hanya terfokus pada pembangunan 20 Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu di wilayah terluar Indonesia, tapi juga penguatan sektor perdagangan perikanan Indonesia di Eropa Tengah dan Timur, serta kerja sama maritim dalam memberantas penangkapan ikan ilegal (Illegal Unreported and Unregulated Fishing).
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI juga menawarkan kerja sama di bidang transportasi untuk memperkuat pembangunan infrastruktur Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu, misalnya transportasi penerbangan yang mampu menjangkau daerah terluar Indonesia.