SUGUHAN teater monolog Tjut Nyak Dien yang diperankan Sha Ine Febrianti, Rabu 9 Desember 2015 di Gedung AAC Dayan Dawood, sungguh menggugah dan menggetarkan hati. Pendekatan ceritanya adalah Tjut Nyak Dien sebagai perempuan pejuang yang keras, seorang ibu yang lembut, dan seorang istri setia.
Seperti janji Ine, penampilan pertamanya di Aceh harus optimal, dan dirinya sendiri ingin tampil sebagai sosok Tjut Nyak Dien yang sebenarnya kendatipun peran Cristine Hakim di film kolosal “Tjut Nyak Dien” sangat luar biasa, namun Ine akan memerankan dengan cara berbeda.
“Saya sangat kagumi sosok Tjut Nyak Dien, saya ingin menyelami lebih dalam tentang beliau. Hebat sebagai pejuang, lembut pada keluarga, dan setia kepada suami. Di mata saya, Tjut Nyak Dien sosok perempuan yang sangat hebat,” kata Ine Febrianti selepas tampil di Dayan Dawood, Rabu malam.
Dalam cerita monolog yang ditulis Suryana Paramita itu, Ine sukses mengambil logat keacehan yang tegas. Kisah berawal usia Tjut Nyak Dien 16 Tahun saat dinikahkan dengan suami pertamanya Ibrahim Lamnga, dari Montasik, Aceh Besar. Di situ dikisahkan romantisme perjalanan cinta mereka, di mana Ibrahim Lamnga adalah seorang pejuang yang tangguh tetapi juga seorang sosok laki-laki penyanyang.
Jelang hayatnya, Ibrahim menyampaikan pesan “tanda-tanda” dirinya akan meninggalkan sang istri selamanya.
“Jika nanti aku tak kembali jangan kau risaukan,” kata Ibrahim Lamga yang membuat Tjut Nyak Dien sungguh “takut”. Padahal biasanyaTjut Nyak punya keyakinan pada suaminya yang memang seorang pemimpin, pemberani, dan juga seorang suami yang inovatif. “Nanti akan kukirimkan tiga ratus orang dari pasukan kita untuk menjagamu,” lanjut Ibrahim Lamnga.
Sungguh kata-kata Ibrahim Lamnga itu terjadi, beliau syahid bersama pasukannya, dan itu sungguh melemahkan Tjut Nyak Dien. Namun, walau lemah Tjut Nyak harus mempertahankan tanah Aceh, hingga dengan waktu lama Tjut Nyak Dien mencari sosok pemimpin yang mampu memimpin pejuang-pejuang Aceh.
Hingga seorang muda dari Meulaboh, sosok yang dimaksud pemimpin oleh Tjut Nyak Dien, Teuku Umar datang, tetapi Teuku Umar terlebih dahulu meminang Tjut Nyak Dien menjadi istrinya, tentu Tjut Nyak Dien menolak, hingga akhirnya pinangan itu diterimanya.
Getaran “kematian” Teuku Umar tidak jauh berbeda dengan suami pertamanya Ibrahim Langa, ditinggal dengan tanda-tanda hingga akhirnya Teuku Umar juga tewas di tangan Belanda. Kemarahan Tjut Nyak Dien memuncak hingga bersama pasukannya melakukan gerilya di rimba sampai Belanda menangkapnya dan mengasingkannya ke Sumedang, Jawa Barat.
“Saya tidak dapat membayangkan kebesarannya sebagai perempuan. Saya kagum pada beliau,” ujar Ine Febrianti lagi.
Ine Febrianti berhasil mengemas monolog berdurasi 45 menit itu sebagai pertunjukan yang menarik dan mengheningkan. Jalan ceritanya mengalir. Apalagi teater monolog ini mengabungkan tiga kekuatan sekaligus, yakni teater monolog (Ine Febrianti), ilustrasi musik dan Cellis (Jassin Burhan), serta multimedia (Icang).[]