MEDAN – Sebanyak 70 kepala keluarga yang terdiri dari sekitar 2.000 warga Aceh Singkil mengungsi ke sekolah gereja HKBP, tepatnya di Desa Saragih, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Saat ini mereka membutuhkan bantuan seperti pakaian, makanan dan selimut.
Ernawati (33), salah satu pengungsi, mengatakan saat ini dirinya bersama warga lain sedang berkumpul di pengungsian. Banyaknya warga yang mengungsi membuat pengungsian tidak mampu menampung warga. Dia bersama satu orang anaknya memilih mengungsi di Tapanuli Tengah karena lokasinya yang dekat dengan Aceh Singkil.
“Kondisi saat ini hujan, di sini sedang berkumpul, tempat pengungsian terbatas jadi banyak yang menumpang ke rumah warga,” kata Erna, ketika dihubungi CNN Indonesia, Selasa (13/10).
Menurut Erna, jumlah pengungsi masih terus berdatangan. Hal ini terjadi karena warga takut menjadi korban berikutnya. Sulitnya akses tranportasi juga menyebabkan pengungsi baru sampai ke lokasi pengungsian pada malam hari.
“Pengungsi masih terus berdatangan, soalnya mereka nunggu jemputan, warga kristennya 80-90 persen mengungsi,” ujarnya.