JAKARTA – Wacana kenaikan harga rokok di Indonesia menuai polemik. Ada yang setuju, tak sedikit pula yang menolak. Kampanye antirokok memang sedang gencar.

Sejak dimulainya Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control yang disingkat FCTC, hampir negara-negara di seluruh dunia menekan peredaran tembakau. Bahkan, Kuba sebagai negara penghasil cerutu ikut serta dalam perjanjian tersebut.

Meski ikut menandatangani FCTC, namun Indonesia masih enggan untuk mengikuti jejak 183 negara yang sudah meratifikasinya. Presiden Joko Widodo beralasan, penolakan itu dilakukan untuk melindungi nasib petani tembakau.

Namun kampanye antirokok terus bergulir. Banyak aliran dana dari pihak asing masuk ke Indonesia. Jumlahnya bahkan mencapai ratusan triliun rupiah.

Dikutip dari laman tobaccocontrolgrants.org, Bloomberg Initiative telah mengucurkan dana hingga Rp 105,308 triliun ke pelbagai LSM, universitas dan kementerian, termasuk Muhammadiyah. Jumlah uang yang diberikan bervariasi, tergantung bentuk kampanye yang dilakukan masing-masing lembaga.

Bloomberg Initiative sendiri merupakan program antitembakau yang didanai oleh Michael R Bloomberg. Lembaga ini menerima permintaan pasokan dana dari manapun, baik dari negara miskin, maupun berkembang.

Selain Indonesia, Bloomberg Initiative juga mendanai 13 negara lainnya, yakni China, Brazil, Meksiko, Vietnam, Rusia hingga Mesir. Di mana negara-negara tersebut diyakini memiliki tingkat konsumsi tembakau terbesar di dunia.

Berikut daftarnya penerima aliran dana untuk kampanye itu:

Dinas Kesehatan Bali Rp 2.110.664.190

Lembaga Demografi FEUI Rp 4.249.982.563

Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular

Kementerian Kesehatan Rp 11.449.296.386

Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Rp 4.446.151.997

Indonesian Corruption Watch Rp 601.447.104

Forum Parlemen Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan Rp 3.687.462.577

Lembaga Indonesia untuk Pembangunan Sosial Rp 4.266.939.106

Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia, Tobacco Control Working Group Rp 16.315.338.387

Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Rp 9.344.551.888

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Rp 10.706.785.014

Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen Semarang Rp 3.506.880.323

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Bali Rp 1.218.865.547

Lentera Anak Indonesia Rp 3.093.876.327
MEDICUSS Rp 373.945.208

Pusat Pengendalian Tembakau Muhammadiyah, UMY Rp 1.821.768.052

Komisi Perlindungan Anak Nasional Rp 10.584.425.691

Komunitas Antitembakau Rp 5.540.142.612
Raya Indonesia 339.622.553

Sekolah Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Universitas Udayana Rp 1.591.224.428

Pusat Penelitian Statistik, Ekonomi dan Sosial Negara-Negara Islam Rp 993.399.452

Yayasan Swisscontact Indonesia Rp 3.971.916.130

Badan Pengendalian Tembakau – Kenya Rp 1.337.315

Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia – Pusat Pengendalian Tembakau Rp 169.299.686

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Rp 11.247.480.827

Yayasan Pengembangan Media Anak Rp 461.853.907

Yayasan Pusaka Indonesia Rp 3.800.681.599.[] sumber: merdeka.com