Ratôh dapat dikatakan sebagai kesenian yang hampir yang sama dengan saman di Aceh Tenggara dan Aceh Tengah. Kesenian ini berkembang di wilayah barat dan selatan Aceh.
Dikatakan hampir sama karena memang ada perbedaan di antara dua kesenian Aceh itu. Pada kesenian ratôh para pemainnya memegang bantal kecil dan dipukul-pukulkan untuk mengatur tempo gerakan. Selain itu, syair-syair yang dilantunkan pada kesenian ratôh menggunakan bahasa Aceh, sedangkan saman menggunakan bahasa Gayo.
Pada awalnya ratôh dipakai sebagai media dakwah. Lantas, saking menariknya, tarian ratôh ini secara perlahan bergeser menjadi hiburan dan ditonton oleh khalayak.
Ratôh memiliki jumlah pemain 8 hingga 20 orang. Mereka duduk dengan posisi tahyat awal seperti pada salat. Kelompok penari ini dipimpin oleh seorang syaikh dan dua orang aneuk syahi yang duduk di belakang barisan penari.
Pada waktu pertunjukan tari, gerakan yang menonjol terlihat dari pinggang ke atas karena posisi kaki tetap dalam keadaan duduk seperti tahyat awal. Gerakan tangan dan badan dari pinggang ke atas dilakukan secara serempak dan seragam, ditingkahi dengan pukulan tangan ke paha, ke dada, dan ke dua telapak tangan yang diselingi oleh bunyi pukulan bantal yang berada di telapak tangan. Gerakan tangan dan badan disesuaikan dengan radat (syair) yang dilantunkan sehingga menimbulkan gerakan magis.
Ratôh dapat diperlombakan. Kedua regu sambil bergiliran menampilkan gerakan-gerakan dan menampilkan gerakan lainnya untuk ditiru oleh lawannya. Begitulah seterusnya sampai salah satu regu tidak dapat meniru gerakan lawannya. Regu ini berarti dianggap kalah.
Busana yang digunakan dalam kesenian ini awalnya biasa saja. Namun, setelah ratôh diperlombakan, para pemain memakai celana panjang dengan baju kaos putih berlengan panjang. Selain itu, mereka juga mengenakan kain sarung setinggi lutut (kain samping) serta memakai tangkulôk kepala seperti seudati.[]
Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009